Membaca “Siddhartha-Budhisme” di Candi Borobudur

boroCandi Borobudur sebagai warisan wangsa Syailendra abad ke-8 telah menjadi daya tarik wisata dunia. Orang asal mancanegara selalu datang ke candi Buddha ini, baik untuk tujuan pariwisata maupun yang lain. Sepertinya mereka berkunjung karena daya tarik sejarah itu telah ada sebelum stakeholder wisata lokal menjemput mereka.

Ketika dideklarasikan Borobudur Plan of Actions (2006), salah satu isinya adalah memperkuat jalinan penting antara warisan budaya dan pariwisata. Oleh karena itu pengembangan SDM dan studi komprehensif nilai budaya dari 6 Negara deklarator amat penting dikerjasamakan, yakni diantara Negara-negara Kamboja, Thailand, Laos, Myanmar, Vietnam dan Indonesia.

Realisasi paling penting adalah pengembangan wisata ziarah dan wisata budaya bagi destinasi Indonesia, yaitu Candi Borobudur. Harus diakui Indonesia diuntungkan dengan lima butir kesepakatan Trail of Civilisation diatas, sepertinya Borobudur kian dikenal meski sempat terganggu dengan pengumuman jejak pendapat kurator Swiss Bernard Weber (9/7/07) tentang the new 7 wonders of wolrd tanpa menyertakan lagi Borobudur.

Peran Besar Guide

kepalabuddhaMungkinkah wisatawan akan tetap datang ke Borobudur dengan bekal promosi yang pas-pasan? Adakah peran Pemandu Wisata ikut menetukan kualitas dan kuantitas kunjungan wisatawan ke Candi Borobudur, belum ada penjelasan spesifik tentang itu. Yang pasti ketika wisatawan datang, peran Pemandu Wisata dituntut sangat profesional bekerja demi layanan yang optimal.

Sejarah Borobudur juga menyangkut budaya Jawa yang melahirkan candi ini. Tata bangunan candi dan relief stupa Borobudur serta kisah tentang Siddharta Buddha disana menjadi sangat khas. Konteks budaya masyarakat bangsa pembuatnya saat itu tidak bisa terlepas dari relief candi, penuh dengan simbol (sandi) kehidupan, maka sejarah Borobudur adalah bentuk sandi kebudayaan Jawa yang harus dibaca.

Tugas pertama dan utama seorang Guide adalah membaca sandi tersebut yang terdapat di Borobudur dengan benar, memahami isinya, pandangan masyarakat pembuatnya yang terhubung kepada elemen budaya mereka. Tugas lain adalah membaca ajaran Siddharta yang terpahat di dinding-dinding candi serta membaca isyarat Budhisme darinya untuk dijelaskan kepada para wisatawan yang datang.

Prosedur Guiding Borobudur

guideboroKondisi obyek wisata candi yang khas menuntut profesionalitas kerja spesifik bagi Pemandu Wisata candi. Mereka yang guiding di Borobudur membutuhkan prosedur standar bagaimana menjelaskan obyek tersebut kepada wisatawan. Berupa sikap, pengetahuan dan skill yang cukup untuk seluruh informasi yang dibutuhkan wisatawan. Sehingga baik Guide maupun Wisatawan sampai pada tujuan kunjungan, mereka merasa terkesan, senang dan mampu mengambil sari kunjungan sampai akhirnya wisatawan merasa perlu kembali datang di lain kesempatan.

Itulah pentingnya sebuah kajian dan telaah pematerian standar tentang Borobudur, yang menyangkut sejarah Siddhartha dan Buddhisme di dalamnya. Semua hal di atas amat terbuka untuk terus difahami melalui bukti-bukti dan sumber-sumber yang falid. Namun semua masih bergantung individu Pemandu Wisata, yakni sikap – pengetahuan – skill seorang Guide di hadapan pemangku kepentingan industri wisata. Guide dan asosiasi profesinya masih memiliki daya tawar amat rendah, itu artinya kreativitas profesi mereka terbelenggu dan harus terus ditingkatkan lebih lanjut.

Target Seminar

Mungkinkah jika Borobudur tanpa promosi yang cukup akan tetap dikenal dan dikunjungi wisatawan? Jika Guide yang menerangkan Borobudur statis kemampuannya, meski bertahun kerja ia akan sulit memenuhi layanan standar wisatawan. Maka amat diperlukan peningkatan SDM profesi Pemandu Wisata; inilah target seminar intern Anggota HPI kali ini.

Untuk tujuan layanan wisata optimal, agar individu Guide terus membaca dan membaca pengalaman guiding technique, dan diharap pemerintah sudi mengalokasikan dana yang cukup demi terciptanya Standar Operational Prossedur bagi profesi. Pemangku kepentingan perlu ikut memikirkan tujuan mulia ini. Ke depan peningkatan profesionalitas kepemanduan tak boleh dianggap sepele. Mereka harus profesional.

Maka siapa meningkatkan kemampuan bahasa, wawasan, materi teknik guiding serta bersikap positif dalam menjalani profesi Guide, dia akan eksis menduduki mandala harkat profesinya, yaitu ujung tombak keberhasilan layanan wisata. Ya, profesi ini sungguh terhormat, mari pertahankan sikap etik profesional kerja menjadi Pemandu Wisata. [ ]

*) Disampaikan dalam Pembukaan Seminar HPI di Aula Dinas Pariwisata Propinsi DIY selaku Ketua DPD HPI DIY 2009-2013.

Anda memerlukan layanan tour guide untuk tour di Yogyakarta , Borobudur, Prambanan  dll, silakan hubungi kami.

One thought on “Membaca “Siddhartha-Budhisme” di Candi Borobudur

  1. Maria Soediro

    Borobudur sebagai satu dari berbagai keajaiban dunia pastilah menjadi obyek wisata yang bertaraf internasional. Banyak perubahan yang lebih baik dari pembangunan fisik Borobudur dan sekitarnya. Yang disayangkan adalah tidak adanya informasi mengenai pemakaian jasa guide di loket. Kami mengunjungi Borobudur pada January 2016 kemarin. Banyak orang menawarkan jasa sebagai guide dan mematok fee sampai Rp250 000,- Hal ini sangat menyebalkan, ditambah lagi dengan.para penjaja souvenir, payung, topi, yang berkerumun mendesak menawarkan dagangannya. Ketidaknyamanan ini semakin lengkap dengan adanya peralihan jalan keluar dari candi. Pengunjung diarahkan ke jalan yang panjangnya hampir 3 km, berkelok2 melewati pedagang2 souvenir dan lainnya. Seolah2 pengunjung diharuskan melewati areal pedagang yang sengaja diberikan tempat berdagang sepanjang jalan keluar. Pengunjung yang sudah lelah bertambah lelah, terutama bagi yang membawa anak2 dan lansia. Jika pengelola mengatur arah keluar ini untuk menjebak pengunjung untuk belanja, percayalah…yang ada pengunjung menjadi sebal dan boro2 belanja, sudah lelah, harus meladeni pedagang2 yg agresif. Pengalaman mengunjungi Borobudur ini menjadikan wisata ini tidak berkelas. Saya ragu apakah akan saya promosikan kepada teman2 lokal mau pun dari luar negeri. Banyak orang mengeluh dan jengkel dg peraturan jalan keluar ini. Mohon direview kembali pengelolaan Borobudur. Jika ingin mencari menjaring wisatawan yang lebih bonafide, seharusnya disediakan fasilitas yang nyaman. Harap diingat, kondisi cuaca panas dan berjalan kaki yang lama akan dihindari oleh pengunjung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s