Candi Kalasan

MEMBACA “CANDI” KALASAN

Sandi Biyung Ke-Ratu-an Jawa

180px-Kalasan09_4Candi Kalasan terletak di pinggiran jalan raya Yogyakarta – Prambanan, merupakan candi Budha peninggalan dinasti Syailendra (778M) oleh Tejahpurnapana Panangkaran, anak menantu dari Raja Samarottungga dari dinasti sebelahnya yaitu Sanjaya. Pada masa ini kita mengenal di belahan bumi lain di Arab, yakni Umar ibnu Abdul Aziz dari Dinasty Umayah, juga terdapat nama Sultan Muhammad Al-Fakih. Disini perlu pula dibaca faktor Cina di dalam perkembangan budaya Islam Jawa, faktanya negeri Cina menyimpan lebih banyak harta emas peradaban manusia asal Javadwipa. Memahami sejarah Kalasan adalah membuka kebesaran Manusia Jawa di tengah geo-struktur masyarakat dunia di masanya.

Candi Kalasan dibangun untuk menghormati Ibu mertua Rakai Panangkaran, di Dinasti Syailendra. Karena itu bangunannya megah sekali serta dan memiliki ornamen indah unik, di sekeliling candi terdapat Balekambang. Tubuh candi berhias 52 stupa, memiliki empat buah Ruang dengan pintu masuk menghadap ke berhias kala, ruang di tengah yang terbesar berisi arca Dewi Tara setinggi 3-6 meter. Bagian atas badan candi terdapat arca Dhyani-Budha di empat penjuru mata angina yaitu Aksobhya, Amogasidhi, Amitabha dan Ratnasambhawa.

Bangunan candi ini direnofasi tahun 1927–1928, kemegahannya mengingatkan kita pada Candi Sari sekitar 700m utara Candi Kalasan. Sedangkan Candi Sari (812 – 838M) berbentuk seperti vihara Buddha sebagai tempat meditasi, mengajar calon Bikhu dan menyimpan kitab- kitab agama. Bangunan Sari bertingkat, masing-masing memilliki tiga ruang yang saling berhubungan, terdapat bekas tangga untuk naik. Atap candi terdiri 9 stupa berderet 3–3–3 sesuai ruang yang di bawah, dinding candi berhias Dhyani-Bodhisattwa.

Relasi nama Panangkaran mengingatkan pula pada bangunan candi-candi di komplek Prambanan yaitu Candi Lumbung, Candi Bubrah dan Candi Sewu. Semua berdiri di abad ke-9 berdasar prasasti Kelorak 782M (barat candi) dan diteruskan prasasti Manjustri Grha 792M, artinya tahun itu candi Sewu telah berdiri. Terdapat ciri-ciri gotong royong dengan tanda goresan batu sebagai hak raja penerima pajak, jika diperhatikan tahun prasasti adalah masa Rakai Panangkaran bersama bawahannya Jayamana, Stahtaka dan Sutragraha.

Relasi simbol ruang pada candi Kalasan juga bisa dirujuk pada komplek candi Sewu. Yakni mengacu pada perlambang banyaknya bangunan (sewu) dari pusat ke pinggir masing-masing 1, 8, 28, 44, 80 dan 88 total 249 candi. Di pintu masuk terdapat delapan raksasa (yaksa) sebagai penjaga bangunan. Pohon kalpataru dan hiasan purnakalasa merupakan lambang kesuburan. Pada Stupa terdapat tiga bagian yakni andha segi empat di bagian bawah, harmika tengah dan yasthi paling atas berbentuk bulat menyerupai puncak payung. Di Candi Sewu juga kita temukan patung Jaladvara, yakni dewa penunggu bangunan suci.

Saat renovasi Sewu tahun 90an, ditemukan batubata merah berbentuk kubus 1m3 berada di titik pusat candi, merupakan prakerti yang unsur-unsurnya mengandung panca mahabutha yakni air, api, tanah, aksa dan udara. Satu ruang utama dikelilingi empat ruang kecil, gambaran Gunung Mahameru yang dikelilingi gunung-gunung kecil. Secara keseluruhan tata letak candi Sewu mengandung konsep kosmologis, yaitu sebuah gunung di pusat benua di kelilingi lautan tak terbatas. Bukti-bukti tersebut melemahkan pendapat bahwa perpindahan kerajaan Mataram Hindu ke timur adalah karena kesengsaraan rakyat (Makalah pada Pendidikan Pramuwisata D.I.Y., 1994).

Sedang prasasti dekat Candi Plaosan menyebut dua orang Raja berbeda wangsa mendirikan sebuah bangunan suci, yaitu Rakai Pikatan dari wangsa Sanjaya dan Sri Kahulungan dari wangsa Syailendra. Sri Kahulungan oleh J.G. de Casparis diidentifikasi sebagai anak Raja Samarottungga, yang dalam prasasti Karang Tengah 824M disebut nama Pramodhawardhani (Moertjipto, Prasetyo, B., 1990). Candi Plaosan terletak di dusun Plaosan, Bugisan, Prambanan ±1,5km arah tenggara komplek Candi Prambanan, terdiri dari kelompok Plaosan Utara dan kelompok Kidul yang hanya memiliki sebuah candi. Sedang Candi Plaosan Lor memiliki 2 candi induk, 58 candi perwara dengan jumlah stupa 126 buah. Di candi perwara ditemukan prasasti seperti disebut diatas bertuliskan huruf Jawa Kuno Anumoda Sang Sirikan Pu Surya artinya Hadiah dari Sirikan pejabat Pu Surya, di candi lain terdapat tulisan Anumoda Sri Kahulungan dan Dharma Sri Maharaja, sebagai hadiah Sri Baginda Putri.

ERA PEMBELAJARAN

Kecuali Kalasan yang gagal renovasi sesuai bentuk awal, seluruh pemugaran candi-candi tersebut di atas selesai dipugar pada Oktober 1993. Saat Gempa mengguncang Jogja 2005 bangunan candi-candi itu kokoh berdiri. Plaosan misalnya dapat dikunjungi dengan lebih sempurna. Saat pemugarannya ditemukan prasasti berhuruf shidam atau prenagari yang mengatakan bahwa pembangunan Plaosan adalah oleh Rakai Pikatan (838 – 851M) yang masa pemerintahannya penuh gejolak politik, hingga energinya difokuskan untuk membangun Larajonggrang.

Fakta geologi terbaru menyebut, bahwa candi-candi di sekitar Jogja telah ada sejak abad 1 dan berkembang pesat pembangunannya pada abad 8-10. Meskipun pusat Mataram Kuno dipindahkan tahun 928 M ke Jawa Timur, terbukti pembangunan candi-candi kecil tetap berlangsung hingga abad 13 (Sri Mulyaningsih, 2006). Fakta ini terus bergerak berdasar hipotesa baru, kita masih harus banyak belajar dari yang dilakukan generasi terdahulu. Kesan mengunjungi komplek Candi-candi menjelang terbenam matahari, menikmati siluet sinar kemerahan di cela-cela bangunan candi sungguh mengesankan, sekaligus menyadarkan bahwa manusia Jawa amatlah religius, bijaksana, gemar bersuci dan berbakti pada Tuhan.

Nama arca Devi Tara pada Candi Kalasan dan ornamen khas disana bisa pula terbaca lain. Arti tara yakni suci, dekat dengan kata Arab thair (burung) dan mathar (pangkalan udara). Era Mataram kuno ini menjelaskan pada kita tentang kebesaran peradaban yang telah tinggi di tanah Jawa, sebagai pusat perkembangan masyarakat di masanya. Candi Plaosan dan Kalasan memiliki alasan kuat bagi pemujaan figur Ibu, ibu pertiwi atau Um (Umi-Ummah) dan kata Ratu – Keratuan – Kraton. Arca Dewi Tara juga bermakna representasi figur suci seorang Ibunda dari Maharaja Jawa, mertua Raja Tejahpurnapana Panangkaran.

Candi Kalasan seperti disebut sebelumnya, sengaja dibangun untuk menghormati kematian Sang Ibunda mertua, hal ini merupakan penghormatan pada sosok perempuan yang lebih berhak untuk disanjung, detaati dan diangkat tinggi-tinggi. Simbul suci dan feminitas merujuk pada fakta bangunan candi, sekaligus menggambarkan bagaimana ketinggian moral Raja-rja di Jawa. Itulah sebabnya, seorang Raja memiliki tugas-tugas ­Ke-Ratu-an (Kraton) yaitu membina dan mengabdi kepada rakyat dan ibu pertiwi. Itu pula, sosok Dewi Tara yang dipuja dan dipuji adalah Dewi Quan’in bagi seluruh semesta. Di dalam Islam, terdapat Hadits Rasul SAW yang menyebut Siti Fatimah sebagai Ibu dari diri beliau, dimaksud untuk menghormat sosok perempuan. Dalam konsep ini, awalnya kesucian berwujud maskulin, namun berubah menjadi feminin oleh tuntutan harkat tanggung-jawab menjaga isi semesta. []

Sumber:

Naskah Buku Jogj@karta: ’Jejak Peradaban Jawa’ karya tulis Andi Mudhi’uddin (2006). Tulisan ini diperkaya dengan Acara mujadaban biyungan puluhan warga Perkempalan Budaya Tjap Orang Jadzab pada Rabo pk 23.30 malam, 11 03 2009 hingga Kamis dini hari di pelataran Candi Kalasan. Lihat pula artikel tentang “Candi Gebang” di blog http://dtur88.wordpress.com.

3 thoughts on “Candi Kalasan

  1. bagus prayitno

    good!! we must learn more about this…i like about story the temple thanks… Bagus stay in Kalasan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s