Strategi Usaha Pramuwisata

Luas pembangunan bidang pariwisata adalah lintas sektor, meliputi koordinasi pemberdayaan dan standarisasi usaha pariwisata, badan promosi, asosiasi kepariwisataan, kompetensi dan pemberdayaan pekerja melalui pelatihan SDM pariwisata. Sedang usaha jasa pramuwisata (UJP) menyangkut koordinasi tenaga pemandu wisata (tourist guide) untuk memenuhi kebutuhan wisatawan, biro perjalanan wisata dan pemangku kepentingan yakni Pemerintah, Pemerintah Daerah, dunia usaha dan masyarakat.

Data nasional 2008 telah mencapai rekor kunjungan tertinggi yakni 1,1 juta wisatawan dengan devisa sebesar ± Rp 90 Triliun dalam ragam jasa wisata, salah satunya adalah Pariwisata Budaya yang bersinggungan langsung dengan tata kebudayaan lokal. Ekonomi DIY dilaporkan tumbuh sebesar 5,02%, wajar jika sektor ini menjadi andalan devisa Propinsi selain sektor pendidikan. Oleh Majalah LIBUR, Kota Pelajar juga menjadi “Destinasi Wisata Terbaik Luar Negeri 2008” bagi pelancong Malaysia. Jogja memiliki daya tarik khas diantara destinasi dunia, maka Pemda di lingkungan Propinsi DIY terus berbenah di sektor Usaha Jasa Pariwisata.

Sedang Pramuwisata adalah profesi ujung tombak layanan pariwisata yang menghubungkan wisatawan dengan seluruh produk jasa wisata yang ditawarkan stakeholder. Hingga Asosiasi Tourist Guide disini yakni Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) merupakan roh tata koordinasi usaha layanan informasi pariwisata.

HPI

Seikat kata singkat HPI menjelaskan makna himpunan perkumpulan Pekerja profesional yang berprofesi sebagai Pramuwisata Indonesia di dalam konstelasi industri pariwisata. Warga Himpunan di DIY yang berlisensi sebanyak 412 orang, separuhnya aktif di lapangan dengan 11 spesialisasi bahasa, yaitu; Inggris, Belanda, Perancis, Jepang, Jerman, Korea, Mandarin, Rusia, Italy, Spanyol dan Melayu. Bahasa terakhir untuk wisatawan asal negari jiran termasuk dari Suriname yang butuh Bahasa Jawa. Untuk Guide berbahasa Italy, Rusia, Jerman, Belanda, Spanyol, Perancis atau Arab tak lebih dari hitungan jari. Hal ini membuat Pariwisata DIY di musim ramai selalu kekurangan Pramuwisata, termasuk kebutuhan Guide lisensi madya berbahasa Melayu. Kata siap bagi Pemandu Wisata artinya dia kompeten, memiliki pengetahuan dan teknik guiding dengan layanan pramuwisata yang standar.

Menurut Perda Kabupaten Sleman No. 6 Tahun 2004 Tentang Pramuwisata Pasal 1, bahwa Pramuwisata ialah seseorang yang bertugas memberikan bimbingan, penerangan dan petunjuk tentang obyek wisata serta membantu segala sesuatu yang diperlukan wisatawan. Salah satu upaya pemerintah dalam mengembangkan pariwisata adalah dengan pembinaan melalui mekanisme perizinan; Pada pasal 8 dijelaskan: Setiap pramuwisata yang telah memiliki sertifikat dan tanda pengenal wajib bergabung dalam asosiasi pramuwisata. Perda Kota Yogyakarta No. 10 Tahun 2002 hal Ruang Lingkup Pramuwisata, membagi kategori yakni Pramuwisata Muda, Pramuwisata Madya dan Pengantar Wisata. Dewan Pimpinan Daerah HPI DIY mengusulkan, bahwa Perda Propinsi DIY Tentang Pramuwisata ke depan perlu merinci jenis Pramuwisata Umum dan Khusus. Yang Umum selingkup Muda, Madya dan Utama, dengan batasan wilayah operasional sesuai kategori Lisensi; Muda di tingkat Kabupaten/ Kota, Madya untuk lintas Propinsi di Pulau Jawa dan Utama berlaku lintas Propinsi di seluruh Indonesia. Sedang Guide Khusus adalah Pramuwisata berkompetensi wisata minat khusus, seperti wisata gunung, wisata air, candi, kuliner, flora fauna dst.

Dalam AD-ART HPI tertera bahwa Asosiasi HPI merupakan wadah tunggal Pramuwisata Indonesia. Sejak berdiri 27 Maret 1983, HPI bernama Himpunan Duta Wisata Indonesia, sebelumnya bersifat lokal yaitu Yogyakarta Guide Association, Bali Guide Association dst. Saat ini HPI menjadi Anggota dari 46 Organisasi Dunia yang tergabung dalam Wolrd Federation of Tourists Guide Association (WFTGA). HPI bertujuan menghimpun, mempersatukan, meningkatkan dan membina persatuan dan kesatuan Pramuwisata Indonesia agar lebih berdaya dan berhasil guna bagi kesejahteraan hidup dan kelestarian Pariwisata Indonesia. HPI berusaha memperjuangkan kepentingan Anggota, terutama dalam peningkatan kompetensi, uji kemampuan bahasa, Asuransi keselamatan kerja, dialog materi kepemanduan dst.

REPOSISI PERAN PRAMUWISATA

Agenda kerja HPI telah ditetapkan di dalam TC Kepengurusan DPD DIY 2009-2013 tanggal 5-6 Maret lalu di Sekretariat dan memunculkan harapan pemberdayaan melalui Koperasi Serba Usaha HPI DIY. Diantara UJP ke depan adalah jualan aneka informasi kepada wisatawan yang datang. Informasi tentang sejarah dan seluruh produk-produk daya tarik kawasan wisata, informasi akomodasi, transportasi, keamanan, kesehatan, kuliner, informasi destinasi dan segala kebutuhan wisatawan seperti destinasi, valas, tradisi lokal, seni, kerajinan, imigrasi termasuk informasi hiburan. Itulah materi-materi teknik guiding yang harus terus menerus ditingkatkan kualitasnya. Peluang kreativitas usaha demikian menurut UU Tentang Pariwisata termasuk Usaha Jasa Pramuwisata. Usaha tersebut bagi DPD HPI DIY bisa bertumpu di atas KSU HPI DIY, dimana Unit Usaha Pendidikan dan Pelatihan menjadi jawaban atas persoalan kepemimpinan, kesejahteraan, standar kompetensi dan regenerasi Tourist Guide.

Selama ini mind-set Pemandu Wisata adalah guiding. Sekali lagi, kerja profesional di luar guiding amat terbuka lebar, seperti translasi Bahasa, kursus pendidikan Guide, pelatihan profesi Pemandu Wisata, konsultan bina wisata, paket wisata dan dunia tulis menulis yang masih terbuka luas. Belajar dari pengalaman complain wisatawan, idealnya Guide berbahasa Inggris disini misalnya bisa memiliki score TOEFL 500, demikian pula Guide yang memilih bahasa Belanda, Jerman, Perancis atau Jepang agar mengukur kompetensinya. Stakeholder yang berkepentingan dengan kinerja Pemandu Wisata lebih profesional perlu berpikir untuk memfasilitasi kompetensi Bahasa ini, maka citra pariwisata DIY ke depan pelan tapi pasti akan terangkat. Sampai disini HPI juga perlu memberdayakan Training Center.

TRAINING CENTER HPI

Sejarah Himpunan sarat dengan kemampuan Pendidikan dan Pelatihan, kini oleh Dewan Pimpinan Pusat HPI, wadah tersebut telah sah berdiri diatas Notaris menjadi Training Center HPI. Tugasnya bersama dengan Pemerintah dan Pemerintah Daerah, yaitu mendidik dan menyiapkan Pemandu Wisata profesional. Ke depan tugas tanggung jawab TC HPI bukan saja sebatas Lisensi Guide namun juga membantu Anggota mengurus Sertifikasi Kompetensi untuk mengembangkan profesionalitas kerja, menjual usaha jasa pramuwisata kepada pihak-pihak yang membutuhkan sesuai tren kecenderungan pariwisata global.

Tren pasar pariwisata kini bersifat lokal, individual dan tradisional. Segementasinya terus bergerak kreatif mengikuti alurnya. Jumlah kunjungan ke destinasi wisata DIY ditentukan oleh kerja keras kita semua; yakni unsur penentu kebijakan dengan unsur pelaksana promosi seperti Badan Promosi Pariwisata yang diamanatkan UU Nomer 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan. Sudahkah kita menguji strategi jangka panjang dan pendek berdasar besaran Dana Promosi. Malaysia dan Singapura sering dijadikan contoh dalam perolehan devisa Negara dari sektor pariwisata. Maka dibutuhkan alokasi dana yang cukup untuk tujuan tersebut. Namun yang terkait dengan tulisan ini adalah pemberdayaan manusia sebagai unsur promosi wisata, yakni perhatian soal mutu layanan standar pramuwisata.

Strategi penting di dalam Usaha Jasa Pramuwisata adalah bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah berkewajiban antara lain menyediakan informasi, perlindungan hukum, serta keamanan dan keselamatan kepada wisatawan. Sehingga tiap wisatawan yang datang mudah memperoleh informasi yang akurat mengenai daya tarik wisata, pelayanan standar kepariwisataan, perlindungan hak pribadi dan asuransi keselamatan baik bagi pekerja maupun wisatawan untuk kegiatan wisata yang beresiko tinggi. Disinilah perlunya konsolidasi Himpunan dan Anggota HPI DIY mendesakkan target pemberdayaan untuk dilaksanakan bersama Pemda seluruh DIY. Melalui wadah Training Center HPI di bawah struktur DPD Bidang Pendidikan dan Pelatihan, pramuwisata mengemban regenerasi SDM wisata Jogja.

TC HPI sebagai Lembaga Diklat kawah pendidikan guide berdiri diatas praksis kerja profesional dan memasak kurikulum pendidikan kepariwisataan yang sesuai dengan dinamika pasar, ketentuan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) maupun UU Tentang Pramuwisata lokal. Dengan memberdayakan organ HPI Prmotion Board, setiap Anggota dapat bergandeng tangan menjual semua potensi di dalam kebersamaan Himpunan, seperti guiding technique, pelatihan bahasa, jasa terjemah bahasa, konsultasi kepemanduan dst. Dengan demikian citra Yogyakarta sebagai DTW Utama di Indonesia diharap akan selalu terjaga kualitasnya, seperti bahwa profesi guide memang langka tapi secara finansial menjanjikan, terhormat serta memiliki etika kerja.

KODE ETIK PRAMUWISATA

Idealisme profesi Pramuwisata Indonesia seperti dipikirkan TC HPI DIY diatas harus mampu menciptakan kesan positif atas DTW dan Budaya Bangsa, sekaligus memicu derasnya devisa Negara dari kunjungan wisatawan, antara lain direngkuh melalui Lembaga Sertifikasi Profesi Pramuwisata. Bahwa profesionalitas kerja mereka tergambar melalui Kode Etik Pramuwisata berikut. Dalam bertugas, Guide harus bertanggung jawab dan mampu menguasai diri, tenang, segar, rapi, bersih, simpatik, sopan, menciptakan suasana gembira, memberi layanan terbaik, tidak menjajakan barang dan tidak meminta komisi. Ia mampu memahami altar budaya wisatawan serta meyakinkan mereka agar mematuhi hukum, adat istiadat setempat. Dia harus memberi informasi yang baik dan benar, menghindari perdebatan mengenai kepercayaan, adat istiadat, agama, ras, sosial dan sistem politik dari negara asal wisatawan. Dia tidak dibenarkan menceritakan masalah pribadi yang bertujuan memunculkan rasa belas kasih wisatawan, mencemarkan nama baik perusahaan, teman seprofesi dan unsur pariwisata lain. Maka saat perpisahan mampu memberi kesan baik agar wisatawan ingin berkunjung kembali.[]

*) Tulisan Ketua DPD HPI DIY periode 2009-2013. Usulan disampaikan Kamis 19/03/09 pada Forum Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2009.

10 thoughts on “Strategi Usaha Pramuwisata

  1. Madhan gee(Nias selatan)

    Indonesia kaya dengan DTW tapi sampai saat ini mengapa Nias masih tidak dihiraukan? Padahal potensi DTWnya sangat meyakinkan.

  2. hpijogja Penulis Tulisan

    Betul sekali, pariwisata Indonesia hanya terfokus pada Bali. DTW yang lain kurang diperhatikan oleh sebab itu, sebagai orang yang tinggal dimana DTW berada harus proaktiv memperkenalkan DTW ke khalayak umum, sehingga kita dapat mengambil manfaat dari DTW. Mengembangkan DTW tidak perlu menunggu uluran tangan pemerintah, karena tidak akan sampai. Jaman sekaran semua orang berhak mengembangkan DTW, apalagi jamannya sekarang sudah tidak ada batas lagi sehingga siapa yang cepat siapa yang dapat.

  3. Marshelia

    Kalau ada info butuh les bahasa Rusia / Guide Russian language kasih info ke saya yah Pak. Terima kasih

  4. seh bela belu

    Kalo begitu tolong KODE ETIK PRAMUWISATA di pasang di web biar anggota HPI tau aturan mainnya.

  5. pak raden

    Kode Etik Pramuwisata pls klik “ethics”, kalo AD ART HPI ada juga lokasi di kota ABOUT HPI.. mgkin membantu aja, karena emang bnyak guide yg gak pernah mempelajari tatanan dan panduan kerja profesi yg digeluti sehari-hari…gusdur: “gitu aja kok repotttt”!

  6. raffa

    heh….
    haruz’na lebih dibanyakin lagi situs-situs kayak gini..
    biar anak-anak yang sekolah/kuliah di jurusan pariwisata lebih punya banyak informasi..
    Quw anak sekolah yang masuk jurusan pariwisata lho…
    bisa dibilang calon Guide masa depan..
    hehehe…

  7. darto

    sama dg raffa dan kiki..mantap; hpi!!!
    usul donk, diperbnyak artikel ttg uj pram
    karena di bangku kul ga ada tuh
    palagi yg dari tulisan guide
    spertinya penulis artikel ini
    perlu di t4 stipar di jogja; sip deh
    saluutt
    diperbnyak lagi yacchhh

    darto dkk menunggu..
    suweerr

    salam sukses hpijogja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s