Reposisi Guide & Asosiasi HPI

REPOSISI PERAN GUIDE & HPI

DALAM JARINGAN WISATA GLOBAL

Seikat kalimat Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) menjelaskan makna asosiasi perkumpulan Pekerja yang berprofesi sebagai Pemandu Wisata (tour guide) di dalam konstelasi industri pariwisata global secara kompeten dan profesional. Guide berlisensi disini saat ini terdaftar sejumlah 412 orang, separuhnya aktif di lapangan dengan 12 spesialisasi bahasa. Jumlah Guide berbahasa Italy, Rusia, Jerman, Spanyol, Perancis atau Arab tak lebih dari hitungan jari untuk turis asing yang datang. Data kunjungan wisata nasional 2008 telah mencapai rekor tertinggi yakni 1,1 juta orang dengan devisa sebesar ± Rp 90 Triliun dalam ragam jasa wisata, salah satunya adalah Pariwisata Budaya yang bersinggungan langsung dengan tata kebudayaan lokal. Laporan terakhir bahwa DIY raih pertumbuhan ekonomi sebesar 5,02%, wajar jika sektor ini menjadi andalan devisa DIY selain sektor pendidikan. Kota Pelajar juga menjadi “Destinasi Wisata Terbaik Luar Negeri 2008” bagi pelancong Malaysia, bahkan sejak lama Jogja telah memiliki daya tarik khas diantara destinasi dunia.

Profesi Tour Guide sangat strategis menjadi tumbal bangunan pariwisata dimana sejak turis keluar rumah untuk berwisata sejak itu dibutuhkan peran seorang Guide. Inilah saat untuk menoleh peran dan profesi mereka secara benar apa adanya, dalam memperingati Hari Guide Sedunia 21 Februari. Catatan ini juga mengingatkan bahwa Asosiasi Profesi Guide yang legal satu-satunya adalah HPI yang memiliki kode etik layanan profesional dan standar kompetensi. Maka Guide dan Asosiasi HPI merupakan dua hal utuh, satu sisi unsur individu Pemandu dan sisi lain sistem organisasi profesi yang menaungi dan menghubungkan wisatawan dengan destinasi peradaban lokal suatu masyarakat. Itulah peran klasik Asosiasi HPI yang sebutan globalnya bernama World Federation or Tourist Guide Associations (WFTGA) beranggotakan 36 Negara termasuk HPI. Sedang masalah aktual yang belum terpecahkan tentang Guide dan HPI adalah pemberdayaan Anggota secara optimal oleh kesadaran Pengurus yang lemah dan perhatian minor dari yang berwenang, hingga profesionalitas kerja kadang tergadai. Ini mirip nasib beberapa asosiasi profesi lain disini yang “dibiarkan” melenggang sendiri minim pembinaan.

REPOSISI GUIDE dan HPI

Organisasi HPI dipimpin oleh Dewan Pimpinan Pusat (DPP), Dewan Pimpinan Daerah (DPD) dan Dewan Pimpinan Cabang (DPC). Struktur DPD DIY misalnya akan terdiri seorang Ketua dibantu Ketua Bidang, Sekretaris, Bendahara, serta Koordinator Divisi. HPI DIY telah lima kali ganti kepemimpinan dari era berdirinya 1974 hingga Musyawarah Daerah (Musda) DPD HPI terakhir meninggalkan masalah penting menyangkut regenerasi, kesejahteraan, komptensi dan kesadaran organisasi. DPD HPI ke-5 pada Sabtu 14 Februari lalu di STP AMPTA Yogyakarta memiliki makna strategis, yaitu turning point Himpunan periode 2009-2013 menjadi bermartabat dan berdaya-guna. Ketatnya persaingan menghasilkan kepemimpinan baru yang mengemban amanat penyatuan idealisme yakni saling membina. Tekad ini membuat visi Ketua terpilih menjadi penuh makna yang jika dicermati visi tiga tahun ke depan itu, yaitu tatanan sistem yang adil dan benar sesuai aturan bagi profesi Pemandu Wisata di dalam jejaring kerja pariwisata global yang bermartabat. Pesan perubahannya adalah dengan merumuskan program kerja taktis yang mampu menyadarkan dan mendisiplinkan anggota bahwa sukses, kemajuan dan kesejahteraan di dapat melalui jalan panjang bersama oleh liku konsepsi jelas seorang Pemimpin, sedang forum sah kelembagaan Musda DPD HPI sebagai arah tujuan kemana Himpunan melangkah. “Persatuan Demi Kesejahteraan Anggota”

REPOSISI PERAN dan PROFESI GUIDE

Seperti praktisi lain, posisi Guide bisa amat memilukan tersudut di pojok tanpa jaminan keselamatan dan kesejahteraan namun sekaligus menjanjikan bagi yang kreatif dan berpikiran positip. Secara materi bisa bebas tak terbatas; Menjadi kapitalis tanpa capital; Membalik posisi Uang Bekerja Untuknya karena luasnya jaringan kerja Tour Guide adalah kuncinya. Cara pandang materialistis bukan hanya milik Guide sebagai sebuah pilihan sikap kerja, apalagi jika visi pribadi dan ketrampilannya difokuskan sekedar mencari uang dari menjual jasa kepemanduan. Sementara manajemen pariwisata ke depan akan berubah lebih humanis, seperti bahwa harga-harga dan layanan kenyamanan akan lebih terbuka dan kompetitif bagi konsumen paket wisata, siapa melawan pasar pasti tergilas. Semua masih bergantung kepada sikap – pengetahuan – skill seorang Guide di hadapan pemangku kepentingan industri wisata. Jika kini Guide dan asosiasi profesinya memiliki daya tawar amat rendah, itu artinya kreativitas profesi mereka terbelenggu di ketiak patner kerjanya, namun toh semua kembali kepada Guide dan komunitas HPI, semisal Wayang adalah panggung prilaku manusia dalam peran yang beragam, namun tetaplah Dalang pembaca cerita hitam dan putih.

Maka reposisi profesi Tour Guide di samping bertugas pokok memandu Wisatawan, ia harus mampu berperan lebih strategis bagi kemajuan industri pariwisata nasional. Reposisi profesi Tour Guide di luar asosiasi HPI misalnya bisa saja menjadi seorang penulis, script writer, penerjemah bahasa, trainer, motivator, moderator, humas dst. Masih banyak regulasi membutuhkan tugas-tugas entrepretuer bahasa dimana Guide bisa berperan, juga posisi accessorsertifikasi profesi yang bakal diterapkan oleh Badan Nasional Sertifikasi Pendidikan tahun ini melalui Lembaga Sertifikasi Profesi. Toh HPI telah memiliki Training Center dengan 10 tenaga accessor berasal dari Yogyakarta, masihkah potensi ini tak menjawab kebuntuan regenerasi Tour Guide, mencetak Guide Bersertifikat dari garba profesionalitas miliknya sendiri. Dalam sebuah Konferensi Guide Se-Dunia di Bali Januari 2009, Organisasi menempatkan Asosiasi pada peran ideal juga marketing system tak tergantikan, diprediksi era mendatang adalah terbukanya akses global pada Pariwisata Budaya dimana nusantara menjadi titik penyangga peradaban dunia, namun secara individu persoalan teknis organisasi dan tatalaksana kepemanduan HPI belum optimal berproses di habitatnya, maka pemberdayaan adalah kata kunci perubahan profesi Tour Guide. dalam ujian WFTGA

Wisata Candi harus dibaca lebih dari sekedar candi tapi juga sandi, sebagai destinasi utama DIY yang menuntut pemahaman sejarah lebih sempurna bagi profesi Tour Guide, juga penguasaan materi-materi guiding lain seperti arekeologi, gunung api, Parangtritis, kerajinan keris, imigrasi, kependudukan, upacara tradisi, politik, wayang puppetry dst. Apalagi dalam hal kesenian Wayang, Indonesia telah memperoleh penghargaan dari UNESCO. Jika wayang Jawa dibaca lebih mendalam akan mengungkap seribu makna juga harkat martabat bangsa, dimana nilai-nilai kemanusiaan dan kehidupan terpapar dalamnya. Jika didekatkan kepada Guide dan Asosiasi HPI, maka sosok kepemimpinan itu adalah simbol prilaku yang bisa ditamparkan ke wajah asosiasi manapun termasuk Guide dan HPI. Bagaimana memaknai hubungan-hubungan kepemimpinan manusia disana dll, menurut harkat dan norma agama tiada beda siapa memimpin Asosiasi tetap tak berdaya di hadapan sistem yang sakit. Munculnya optimisme perubahan bukan hanya dari pemimpin namun semua elemen warga Himpunan hatta anasir lain di luar dirinya.

REPOSISI ASOSIASI HPI

Program konsolidasi organisasi HPI menjadi prioritas utama Pengurus DPD DIY mengingat dinamisme anggota dan aturan AD-ART, panduan organisasi, disamping program kesejahteraan dan jaminan asuransi keselamatan kerja bagi 412 Guide pemilik lisensi dan berkompeten memandu wisatawan. UU Keselamatan Kerja belum mengatasi persoalan malah menambah rumit hubungan Guide dengan Biro Perjalanan di lapangan, masalah premi juga penghargaan fee bagi setiap paket wisata harus dihitung masuk ke dalam cotation yang ditawarkan tour operator luar. Program strategisnya adalah regenerasi profesi Guide, sehingga tugas dan tanggung jawab layanan pariwisata secara keseluruhan tidak meminggirkan peran Pemandu. Siapa yang akan memikirkan pola keselamatan kerja dan kelanjutan tugas-tugas layanan kepemanduan manakala stakeholder Guide dan program Organisasi, Pendidikan serta Kesejahteraan HPI tidak berjalan optimal. Sasarannya bila seorang Guide berkompeten handal dan profesional dia akan dicari siapapun yang membutuhkannya, bukan dibalik bahwa tour operator memperlakukannya sebatas pekerja wisata.

Mesin organisasi HPI dapat sehat bekerja bila semua anggota bertanggung-jawab terhadap profesi lalu bersinergi potensi dan sudi memajukannya, bukan melemparkan masalah maya tanpa niat perbaikan. Pihak yang berweng perlu mencari solusi agar Himpunan terlindungi dengan regulasi pasti. Pengurusnya mampu melembagakan efektifitas peran manajemen komunikasi dan kehumasan ke-HPI-an melalui tindakan silaturahim pemikiran dan pertemuan Anggota agar ke depan Guide dan HPI memperoleh kompetensi di atas penghargaan profesi sepadan di hadapan pemangku kepentingan pariwisata. Kata kuncinya adalah kerjasama dan pemberdayaan sebagaimana penentu kebijakan yang di atas, para Menteri Pariwisata se-ASEAN melalui Perjanjian Borobudur dll telah merapatkan jalinan kerja dalam menangkap devisa melimpah di sektor ini. Disini kita baca tekad kuat ini namun realisasi di bawah perlu langkah taktis koordinatif untuk mencapai harapan ideal! []

*) Artikel ini dikirim tgl 19/02 ke Harian KR untuk Memperingati Hari Guide

Se-Dunia: 21 Februari 2009 dan salah satu Makalah Ketua DPD HPI 09-13

dalam Sarasehan Budaya usai acara Pelantikan Pengurus di Opak Resto.

tour_guide

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s