Menggugah Peran Guide

Saat ini telah berkembang industri jasa pariwisata di Indonesia. Angka kunjungan wisata naik sekitar 1,1 juta orang dari target nasional 6,5 juta, dan diperkirakan sepanjang 2008 telah bisa menyumbang devisa sebesar 7,5 Miliar Dolar AS (± Rp 90 Triliun) dengan bentuk jasa yang sangat beragam salah satunya adalah Pariwisata Budaya yang bersinggungan langsung dengan tata cara kebudayaan lokal. Kegiatan pariwisata dapat dirasakan manfaatnya oleh seluruh lapisan masyarakat, bahkan Daerah Tujuan Wisata (DTW) DI Yogyakarta telah dipilih warga pariwisata terbesar Malaysia yaitu Majalah Libur menjadi “Destinasi Wisata Terbaik Luar Negeri 2008” bagi masyarakat pelancong (Kompas, 19/12/2008). Prestasi baik layak terus dipertahankan semua pihak, termasuk peran kunci pemandu wisata disini, apalagi di tahun sama Kota Gudeg juga menempati Kota paling bersih dari korupsi diantara kota-kota Nuswantara, menurut laporan Transparansi Internasional Indonesia.

Peran budaya seorang pemandu pariwisata dunia telah diatur dalam dokumen UNESCO nomer E/CONF.47/8, bahwa wisatawan sebagai subyek menikmati kebudayaan lokal yang disajikan sebagai obyek wisata. Pengalaman baru akan meningkatkan emansipasi pribadi, sedang bagi obyek berpahala dan mendorong prestasi lebih bernilai. Kualitas hidup tinggi menaikkan prestasi budaya masyarakat, mensejahterakan serta dampak ikutan bagi pertumbuhan Penghasilan Asli Daerah setempat. Tidak dipungkiri jumlah wisatawan asal Eropa terutama Jerman tahun 2008 kian menurun. Kunjungan wisata nasional di tahun 2004 sejumlah 6,5 juta, di tahun 2005 menurun jadi 4,9juta orang dan terakhir 4,8juta orang (2006), sedang tahun 2007 angka perbelanjaan uang wisatawan rata-rata 970 Dollar AS. Padahal Malaysia meraih 20 juta wisatawan dengan devisa ± Rp 100 triliun. Maka momentum data wisman yang terus menurun inilah saat paling pas memikirkan solusi ke depan; yakni tentang multi peran Pemandu Wisata Bahasa Jerman yang sangat strategis mengangkat citra bangsa, meningkatkan apresiasi wisatawan terhadap budaya Jawa dan tentu membawa dampak positif pada seluruh masyarakat.

Tulisan ini mencoba mengangkat masalah regenerasi Pramuwisata dan peluang kerjasama profesional bermartabat dengan relasi jaringan terkait. Lebih spesifik bertujuan merumuskan bekal usulan program kerja dalam rangka Musyawarah Daerah tanggal 14 Februari 2009 Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Yogyakarta periode 2009-2014 dari divisi Bahasa Jerman, mengingat fakta minimnya perhatian stakeholders pariwisata seputar regenerasi Guide profesional di tengah pola kepariwisataan dunia yang terus berubah.

Praksis kepemanduan diatas jika ditelisik akan ketemu beberapa identifikasi kasus misalnya; wisatawan saat berkunjung disini tergelitik untuk bertanya bagaimana mungkin orang Jawa hidup di abad ke-8 itu mampu membangun Candi semegah Borobudur atau lebih sederhana tapi lebih tua lagi yaitu Candi Gebang di Sleman. Juga pada wisata religi program Ziarah Makam Para Wali seperti Ki Ageng Gribig Jatinom Klaten yang berperan besar atas kebesaran Mataram Islam. (http://dtur88.wordpress.com). Wisata candi menunjuk pada sejarah keyakinan orang Jawa akan adanya Tuhan sangat mendalam oleh temuan bahwa candi sebagai tempat peribadatan di sekitar Jogjakarta sejak abad pertama. Peran local genius dalam pendirian bangunan ini tidak dapat dikatakan sedikit, hingga masa keemasan pembangunan candi di abad 8 merupakan keemasan aktualisasi kepercayaan kuno Agami Jawi di masyarakat, melanjutkan laku peradaban manusia purba disini (Kedaultan Rakyat 06/02/06). Wisata Candi akan menuntut pemahaman sejarah lebih sempurna bagi profesi pemandu, demikian halnya soal arekeologi, ikon obyek wisata Merapi, Parangtritis, kerajinan keris, upacara tradisi, wayang puppetry dst. Indonesia telah memperoleh penghargaan dari UNESCO dalam Sidang II ASEAN Puppetry Association (APA) di Yogyakarta 13-14 Desember 2008, saat itu dibicarakan kerjasama, pelestarian dan pengembangan Kesenian Wayang Indonesia sasarannya bergabung dengan Asosiasi Wayang Dunia “Union Internationali de la Marionnette (Unima)”. Hal ini diawali dengan mengundang India, Jepang dan China di acara APA Festival Wayang II di Yogyakarta, alasannya karena Wayang Jawa dan Negara-negara ASEAN lain tidak kalah dengan ketiganya. Menurut HB X wayang adalah juga harkat martabat bangsa, dimana nilai-nilai kemanusiaan dan kehidupan terpapar dalam cerita wayang. Telah disepakati dalam Sidang 10 negara ASEAN ini; pertama, tiap Negara harus memiliki sanggar boneka/wayang; kedua, memperbanyak pertukaran pentas; ketiga, menyusun Buku Sejarah Wayang; keempat, menentukan tuan rumah Sidang APA 2009 Filipina dan 2010 di Malaysia. Sumber: Kompas, 13 dan 15/12/2008.

Daerah Istimewa Yogyakarta dalam tataran sejarah diatas, menjadi sentra diskusi yang merangkai ke seluruh diskursus peradaban, sekaligus hingga hari ini merupakan andalan DTW Indonesia, sekali lagi menuntut profesionalitas Guide Bahasa Jerman. Merekalah yang memaknai dinamisme Sejarah Nuswantara di hadapan wisatawan; membaca pertanda perjalanan kebudayaan purba di Jawa telah lama berjalan seumur fosil-fosil manusianya. Java Man Homowajakensis dengan volume otak 1000–2000cc yang ditemukan (1889) oleh Eugene Dubois dan Van Richoten di Malang, serta spesies Meganthropus Palaejavanicus yang ditemukan oleh Ralph von Königswald di Sangiran (1936-1941) telah meninggalkan misteri hingga hari ini. Sementara menurut kajian semiologi-semiotika, manusia membutuhkan cara pembacaan atas kejadian dari akibat penciptaan alam seisinya, minimal dengan fakta relasi kejadian sebagai materi pembelajaran dan pebaikan hidup. Filsuf semiotika-semiolog melihat dan memperhatikan sistem tanda penciptaan yang bergerak lincah di medan pertandaan berupa persepsi, epistemologi, pengetahuan, mitologi, gagasan, idealisme, keyakinan dll. Baginya tanda adalah idea yang bisa diindra dan harus dibaca keseluruhan penanda aspek material berupa ekspresi, indeks, sandi/candi, simbol, bahasa, tulisan, patung/arca, poster, iklan, brosur, flim, klip dan lain-lain (Achmad Ma’rup, Herman, 2008, Sebuah Kajian Semiotik). Dengan kearifan membaca potensi pariwisata DIY dan Nuswantara, maka tak akan pernah terjadi lagi penelikungan sejarah bangsa seperti kasus pembangunan Pusat Informasi Majapahit di tengah lokasi situs kuno akhir tahun 2008 yang lalu.

Identifikasi atas persoalan kepemanduan diatas bisa dipertajam terutama seputar guiding skills and technique, namun hasilnya akan terpulang kepada pribadi sang pemandu, haruskah kreativitas kerja budaya ini tergadai di tengah tuntutan profesional dan tawaran proyek instan. Peta akar kreasi sesungguhnya adalah minimnya kesadaran menjadi guide profesional dan berkualitas di dalam sistem manajemen pariwisata yang tidak kondusif, sehingga berakibat lemahnya penguasaan materi-materi guiding atau minimnya penghargaan profesi mereka di tambah aturan soal lisensi dan birokrasi yang tak mendukung, di sisi lain kran legal formal perjanjian kerjasama antar Menteri Pariwisata Negara ASEAN (2008) telah dibuka lebar-lebar di tengah persaingan tidak sehat sesama stakeholders pariwisata. Jika pemandu menutup mata atas tanda-tanda ini, nasib pariwisata Indonesia dipertaruhkan. Maka bagi rekan pekerja pariwisata dapat mempertahankan kompetensi di tengah jaringan kerja yang ada dengan agenda perbaikan diusulkan sebagai berikut: Mengintensifkan sinergi potensi keilmuan dan ketrampilan dalam rangka standardisasi kompetensi dan pengayaan materi guiding.

Musyawarah Daerah HPI Yogyakarta 2009 kali ini sebagai momentum perubahan fungsi kelembagaan menjadi lebih berkualitas baik dan berdaya multiguna. Termasuk fungsi ekonomi, profesi, kesehatan, moral, pengetahuan, budaya dst bagi seluruh relasi kepentingan pariwisata. Terakhir, pihak pemakai jasa dan pemerintah memberi jaminan keselamatan kerja di lapangan bagi profesi Guide, karena program pariwisata secara keseluruhan akan menjadi bernilai lebih itu banyak bergantung kepadanya, sisi lain akan meninggalkan kenangan lebih bernilai bagi wisatawan pengguna layanan jasa di lokasi destinasi pariwisata. Jika wadah HPI tidak mampu memberi solusi di bidang ini, pemberdayaan internal diantara Divisi Bahasa seperti komunitas Guide Bahasa Jerman Jogd’reiseleiter layak menemukan ide kreatif yang dapat dilakukan secara bermartabat. Semoga tulisan ini menggugah kita semua dan bermanfaat! [ ]

Ditulis Kandidat Ketua Andi Mudhi’uddin dan terpilih anggota sidang sebagai Ketua DPD HPI DIY Periode 2009-2013 dengan skor suara 43:63, atrtikel terbit menjelang Musda DPD HPI ke-5, tema Meningkatkan Persatuan dan Kesejahteraan Anggota, dimuat di Harian KR edisi 12/02/2009 dan Radar Jogja edisi

One thought on “Menggugah Peran Guide

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s