Daya Tarik Merapi

”It is Java’s most potent mystical symbol of life and is truly one of The World Most Beautiful Mountain. It was revered understandably for centuries as a sacred peak and a spectacular sight no metter how many time you see it..” (Bill Dalton, International Tourism Observer, USA).

Kalimat indah itu ditulis bukan tanpa alasan, begitu inspiratif membangkitkan minat orang sejagad untuk datang berwisata ke Jogja. Intinya bahwa rahasia gunungapi “fire mountain” (merapi), adalah gunung paling aktif selalu di urut nomer 1 diantara aktivitas 10 gunungapi teraktif dunia..dibaca: ‘more or less continuously erupting.. this 2985 meter high mountain is the most active volcanoes in the world..’

Gunungapi tersebut jadi penghulu gunung pemancang Pulau, yakni sederet gunung-gunung Merbabu, Sumbing, Sindoro, Lawu dan Slamet, merekalah yang zaman baheula membentuk kawah danau purba dan nampak kini mengelilingi Candi Borobudur. Siapapun tahu bahwa sandi penanda Buddha ini menjadi penting dalam perjalanan destinasi wisatawan sejagad memuaskan rasa ingin tahu mereka dan mengambil sari-sari sejarah serta kebijaksanaan Jawa yang tersisa.

Dalam sebuah perjalanan pengembaraan peradaban Jawa, makna terdalam Merapi antara lain mengabarkan bahwa alam semesta memiliki Pancang Bumi, ada yang kecil aktif pula yang besar berapi. Keberadaan gunung mendahului tetumbuhan, hewan maupun turunnya air hujan yang lalu mengalir ke arah laut kemudian Adam Hawa melahirkan keturunan manusia dari asal yang sama. Gunung dan laut menjadikan perjalanan asal-muasal ini kian hidup dan mekar ke aneka ragam kejadian peradaban manusia disana juga keturunan mereka disini, pun kemudian mengembang jadi warna-warni dan terus meluas tanpa batas.

Lelaku semesta alam sampai pula pada peristiwa ratusan kali erupsi gunungapi yang berakibat malapetaka peradaban. Menurut Webster’s Dictionary, bahwa sebuah malapetaka adalah yang mengakibatkan kerusakan harta-benda, korban dan gangguan jiwa. Jika itu disebabkan oleh proses alam, bisa aneka macam, seperti: erupsi, banjir, tsunami, angin puting beliung, tanah longsong ataupun gempa bumi. Ancaman kegiatan gunungapi Merapi bisa saja seperti; jatuhan debu piroklastika, aliran piroklastika, awan panas, aliran lava, gas beracun dan bahaya sekunder, seperti hari-hari ini.

Perjalanan bulan Januari antara Jogja-Magelang di sepanjang Kali Putih Jumoyo berkali-kali telah terputus oleh lahar dingin. Jawaban ditail tentang sebab musabab tak memuaskan pejalan disana. Tapi itulah diantara bencana banjir lahar dari 140 juta M3 yang sebelum erupsi menumpuk di puncak kawah dan kini menenggelamkam sawah, merusak rumah-rumah, memutus 19 dusun dan perkampungan serta puluhan jembatan. Di balik peristiwa mengerikan itu terdapat pelajaran berharga bagi manusia, sisi ini lalu mengusik kesadaran pariwisata untuk mengenal seluk beluk bencana secara mendalam agar selamat dan mencapai perjalanan masa yang menyenangkan dari pemahaman penciptaan yang baik http://hpijogja.wordpress.com/2010/12/16/fenomena-batuan-merapi/.

Pariwisata sebagai pemantik perjalanan minat ingin tahu manusia atas evolusi kebumian diketahui dan proses peristiwa kealaman ini bisa mendewasakan dan menyelamatkan. Akhirnya lingkungan jadi nyaman asri hingga hubungan kemanusiaan menyadarkan; bahwa penciptaan gunung-laut seisinya bisa direkayasa menghasilkan harmoni dan masyarakat hidup lebih bersahabat dengan Merapi, berkarya positif ikut menjaga lingkungan simbol kosmos sejagad. Berjalanlah ke Merapi menangkap daya tarik semesta itu, karya dan cipta Allah lain atau bacalah Candi-candi, istana perkampungan, sawah, sungai dan benteng raksana demi menemui kualitas hidup mulia, sejahtera dan hasil-hasil perjalanan lebih manfaat.

Berwisata ke tanah Merapi dan Borobudur semakin bermakna, bahwa destinasi ini bukan saja menarik untuk dikunjungi, sebab kaya sekali terkait potensi sejarah seperti diungkap http://hpijogja.wordpress.com/2010/11/05/evakuasi-dinasti-mataram/ masalah budaya, pendidikan, ekonomi, politik, agama dan tentu sekitar daya tarik arkeologi. Namun sisi lain, diantara dua destinasi mampu membimbing insan yang tertibat industri disana untuk selalu berkreasi dan sudi memberi layanan terbaik kepada alam, lingkungan dan pembelajar (yakni wisatawan) beserta elemen pengguna jasa wisata lain. Pariwisata wataknya selalu memberi banyak hal kepada sekeliling, manusialah yang harus kreatif memanfaatkan.

Akhirnya, itu pulalah diantara dua belas tugas profesi GUIDE untuk memandu pembelajaran lingkungan kemanusiaan menjadi baik lebih sempurna lagi. Dalam hal ini sama dengan turis, hanya seorang guide harus lebih sadar lingkungan, memiliki rasa ingin tahu yang besar membara, beda lainnya bahwa muara pengetahuan dan ketrampilan DIRI Pemandu adalah untuk dibagikan luas kepada wisatawan, agar para pejalan peradaban itu selamat ceria menuju asal rumah kembali.**[]

Ayo ke Jogja lagi

Jalan menuju Nagari Ngayogyakarta Hadining Rat mulai berliku dan berkelok setelah erupsi pertama tanggal 25 Oktober 2010, lalu yang lebih besar lagi 30 Oktober dan ternyata melewati bulan kedua pasca erupsi masih juga kian meruntuhkan beberapa waduk dan Jembatan Srowol di Magelang. Rupanya sejarah masalalu Jogja berulang, rakyat disini lebih arif memberi (silahkan kembali ke Jogja!), sebab mereka terbuka santun pun bijak dari prilaku sang Penguasa Negeri RI dan yang terjadi dari aktivitas puncak gunungapi setelah erupsi bukan saja warna bencana, tapi berkah pasirnya juga pembelajaran atau teguran yang disimbulkan oleh Maridjan – Merapi – Mataram.

Rakyat yang melimpahkan kewenangan kepada Sang Wakil terhormat di Dewan Perwakilan Rakyat tak lagi amanah memegang janji, padahal Wakil bertugas mewakili aspirasi dan Keistimewaan Yogyakarta bukan sekedar keinginan tapi simbol sabda rakyat Mataram yang selalu memberi kepada NKRI, tapi bahkan jauh sebelum Republik berdiri. Sultan Banaran atau Hamengku Bhuwana I telah meletakkan dasar-dasar kosmos berdirinya Mataram hingga Sultan VII – HB IX peran beliau terhadap bangsa ini melampaui eksistensi Ripublik.

Daya tarik keistimewaan Yogyakarta tentu bukan soal Merapi, namun menurut KH. M. Jazir ASP bahwa jiwa kemerdekaan RI itu telah berakar di Mataram, bahkan utusan Khilafah Islam tertinggi Turki saat itu sudi datang ke Jogja memberi tanda keistimewaan dengan secarik kain bertuliskan La ilaha illa Allah, Muhammad rasulullah yang kini menjadi tanda keistimewaan (Kyai Tunggul Wulung) sebagai satu-satunya kerajaan islam sejagad pasca era kenabian yang tersisa. Bahkan utusan Turki itu dinikahkan dengan salah satu keluarga Pembesar Kerajaan, saat ini makamnya berada di Nitikan. Hal ini diungkap dialog Budaya dan Seni Yogya Semesta 11/1 malam di Bangsal Kepatihan bertema Keistimewaan Yogyakarta menghadirkan Sejarawan dari UGM Prof. Dr. Suhartono Wiryopranoto dan narasumber Romo Banar. Bahkan keistimewaan Jogja merambah lebih dari sekedar Seni dan Budaya bangsa, karena itu tugas pemuda mengisinya lebih mekar menafasi jiwa pembangunan yang selalu memberi kepada rakyat lebih dari sekedar pembangunan materi.

Maka keistimewaan Yogyakarta bukan sekedar persoalan Kuasa Raja sebagai pusat jiwa semesta peradaban yang memayu ayuning bhuwana, tetapi juga kemanusiaan Jogja yang berjiwa memberi kepada Bangsa dan Negara saat diserang VOC. Cermin pendidikan sahabat Merapi http://hpijogja.org/wisdom-lokal-anak-merapi.htm serta budaya demokrasi dari kuasa Raja Mataram ini terpantul hingga era ini, yakni Sultan HB X yang mandiri dan selalu mengayomi warga bangsa. Dikisahkan mantan Kepala Dinas yang hadir disana, bahwa beliau mengunjungi rakyat atau ke LN atas beaya sendiri, karena memang dana anggaran Negara amat terbatas. Seperti diungkap pula bahwa Soekarno menerima pemberian Raja Jogja sejumlah 60.000 Gulden untuk menghidupi pembesar RI, inipun dibenarkan catatan sejarah oleh Ibu Rahmi Hatta.

Maka ketika Merapi meletus dengan jarak bencana yang amat tipis dari anugerah, rakyatpun bertanya dalam gumam; seharusnya bangsa ini banyak belajar dari kesempurnaan penciptaan gunungapi dan kelimpahan daya tarik seni, budaya atas peradaban rakyat Ngayogyakarta Hadining Rat. Jasa pariwisata telah menanti bagaimana melayani manusia sejagad akan berguru dan menimba pengalaman serta mengumbar rasa ingin tahu terhadap isi semesta Yogyakarta termasuk Desa-desa Wisata di lereng Merapi maupun keindahan alam yang kini mulai memanggil-manggil ketertarikan wisatawan untuk dikunjungi. Ayo ke Jogja Lagi!!! ***

Wisdom Lokal Anak Merapi

Ketika 41 anak-anak Sahabat Merapi diajak santai tanggal 28/11, 30/11 dan 1/12 oleh para Relawan Guide Himpunan Pramuwisata Indonesia DIY dan Relawan Psikolog UII-UIN-UGM ke beberapa obyek wisata Yogyakarta, banyak hal penting terungkap selama perjalanan. Sebuah pendampingan positif bagi anak-anak korban bencana yang perlu diteruskan HPI bersama Dinas Pariwisata Kebudayaan dimanapun paska bencana. Bacalah artikel terdahulu kisah anak sahabat Merapi di http://hpijogja.org/ atau blog lain http://www.hpijogja.wordpress.com!

Hasil perjalanan trauma healing diatas, anak-anak belajar bagaimana hidup bersama aktivitas gunungapi, mencoba mengerti dan berbagi ruang dengan Merapi dalam menyeimbangkan semesta alam. Pemerintah perlu memperhatikan kelangsungan belajar anak Sekolah dan program pemulihan non-fisik bagi seluruh keluarga di pengungsian. Asosiasi seperti HPI bisa pula mengajak serta Komisi Anak Indonesia atau Lembaga Psikologi Perguruan Tinggi dalam kegiatan recouvery ikut menjaga pertumbuhan emosi dan kejiwaan sahabat korban.

Saat ketemu keluaga Korban di forum World International Converence on Culture, Education and Science and Collogium in Honour of Dr. Ann Dunham Soetoro and Prof Dr. Mubyarto, 5-8 Desember di Grha Sabha UGM, terungkap cerita-cerita menarik. Hingga sebulan dari erupsi Merapi masih ditemui anak yang murung memasuki gelap malam, sahabat yang takut ditinggal di rumah sendiri, enggan melewati jalan dimana terlihat olehnya gunung, terdiam mendengar kisah Merapi. Di sisi lain ada sahabat Merapi yang bangga menceritakan pelarian dari kejaran wedhus gembel dan yang masih bisa bersyukur saat keluarga selamat di tengah keluarga lainnya habis oleh ganasnya awan panas.

Terungkap dari kehidupan lereng Merapi sederet kisah-kisah lingkungan yang memilukan, masyarakat yang butuh pendampingan serta mereka itu perlu perhatian serius Relawan Sahabat Merapi di masa datang. Ini mengingatkan keprihatinan lain kehidupan masyarakat tiga Kecamatan di Sidoarjo, Jawa Timur oleh musibah Lumpur Lapindo. Berdasar pendampingan disana, mereka memiliki ‘psychological well being’ hingga masih ada ruang mengembangkan diri lebih baik, inilah pula poin yang perlu diperhatikan Relawan Sahabat Merapi.

Diskripsi mengenai kondisi psikologi korban bencana, termasuk disini Sahabat Merapi maupun Tsunami dan seterusnya adalah anak-anak yang masih ceria dan mampu bercerita dengan baik, menerima musibah apa adanya, mampu beromunikasi hangat dengan orang lain, memiliki arti dalam hidup, merealisasikan potensi dirinya serta mampu mengontrol lingkungan eksternal (Sugianto, 2000) seperti dilaporkan penelitian 2008, 148 halaman oleh Endah Mastuti dan Herdina Indrijati, tertuang dalam buku kumpulan Reseach Excellence With Morality, Airlangga University, 2010:388-393.

Pengalaman mengajak anak Sahabat Merapi dalam program trauma healing ke Ratu Boko, Prambanan dan Taman Pintar Yogyakarta mengajarkan; bahwa Sekolah perlu menjalin hubungan sinergis dengan orangtua agar bisa mendeteksi gangguan psikologis akibat bencana dan jalan keluar efektif bagi anak-anak. Guru-guru disini seperti dilaporkan hasil penelitian (2008) bagi Korban Lapindo harus tanggap terhadap tiap perubahan prilaku Sahabat korban. Sedangkan saran bagi Pemerintah; bahwa bantuan tidak hanya konsentrasi fisik namun juga pendampingan psikologis dan recouvery korban bencana harus menjadi fokus perhatian serius, seperti program pemulihan mental, pembangunan taman bermain anak-anak, Sekolah yang melibatkan Guru-guru mereka dengan wisdom lokal.

Yang mengejutkan kami, bahwa para Sahabat Merapi itu lebih tegar dari kekuatiran banyak pemerhati. Seperti dikisahkan Orangtua Anak usia Kelas 5 SD di atas itu sangat fasih berbicara tentang aktivitas Merapi termasuk menggambarkan kearifan lokal masyarakat lereng Merapi lebih dari hasil penelitian diatas, kebetulan itu peran Ibunda anak tersebut yg tak jemu mengajak serta berkeliling kepada sanak saudara yg jadi korban. Catatan penting tulisan ini, HPI dan lembaga pemerhati program trauma healing anak-anak harus terus bekerjasama di kemudian hari setelah usai tour perjalanan pendampingan usai..keseimbangan aktivitas bahwa manusia tumbuh alami di wilayah pasang surut peradaban termasuk suasana bahagia dan perihnya peristiwa bencana.***

Pemandu Wisata Ingin Ada Titik Aman Merapi

Yogyakarta, 28/11/2010 (Kominfo-Newsroom) Puluhan pemandu wisata,yang tergabung dalam Himpunan Pramuwisata Indonesia DI Yogyakarta,berharap pemerintah bisa menentukan titik-titik yang aman untukdikunjungi di sekitar Gunung Merapi.

Selain para pengungsi dari lereng Merapi yang menjadi korbanlangsung, industri pariwisata juga merupakan korban sekunder dari erupsi Gunung Merapi. Kami sangat prihatin dengan penderitaan wargalereng Merapi. Tapi, kami juga sebagai korban sekunder dari bencanaini. Dengan terjadinya bencana, kami jadi jobless, ujar Budiharto,anggota HPI, dalam kunjungan di Media Center Tanggap Darurat MerapiJalan Kenari No 14 A, Yogyakarta, Minggu (29/11).

Mewakili puluhan rekan-rekannya, Budiharto mengaku resah denganadanya pemberitaan di media massa yang memberitakan ada wargamamasang spanduk berisikan larangan memasuki lokasi tertentu.Berita semacam itu, menurutnya, menimbulkan situasi mencekam bagisiapapun yang membacanya.

Atas kondisi itulah, lanjut Budiharto, HPI berharap melaluiMedia Center dapat disebarluaskan pemberitaan yang lebih kondusif.Semisal disampaikan kepada para wisatawan agar bersabar menunggusituasi aman. Setelah tanggap bencana ini usai, kami ingin membawawisatawan. Tentunya banyak sekali wisatawan yang tertarik denganLava Tour. Kalau situasi normal, Lava Tour itu sangat menarik,jelasnya.

Intinya, tambah Budiharto, pihaknya tidak ingin terjadi konflikantara pemandu wisata dan warga di lereng Merapi. Sehingga, butuhperan pemerintah, khususnya Pemda Sleman, untuk dapat memetakantitik-titik mana yang bagus untuk dikunjuungi, sekaligus amandengan akesibiltas terjangkau. Kalau itu sudah teridentifikasi,sangat membantu industri pariwisata untuk merancang paket wisata kelereng Merapi dan daerah yang tidak bersinggungan dengan warga yangsaat ini masih sensitif, jelasnya.

Menanggapi hal ini, juru bicara Media Center tanggap DaruratMerapi Selamatta Sembiring mengatakan sangat memahami apa yangmenimpa industri pariwisata akibat erupsi Gunung Merapi sejak 26Oktober 2010. Namun, ia menegaskan larangan aktivitas di sekitarMerapi bukan hanya sektor kepariwisataan saja. Status Merapi masihAwas, sehingga siapapun tidak diperbolehkan untuk kegiatan apapun.Kita tunggulah Status Awas ini turun dulu, jelasnya.

Ditambahkan, jika keadaan nanti benar-benar sudah aman, DinasPariwisata setempat diundang ke Media Center Tanggap Darurat Merapiuntuk memberikan keterangn kepada media massa terkait pemetaanlokasi mana saja yang bisa dikunjungi oleh wisatawan. Sekaligusbisa pula nanti dijelaskan kepada media bahwa kedatangan wisatawanakan memulihkan perekonomian, termasuk perekonomian masyarakatsekitar. Kita masih wait and see, tegas Sembiring. (MCMerapi/dry)

Sumber: http://www.depkominfo.go.id/berita/bipnewsroom/pemandu-wisata-ingin-ada-titik-aman-merapi/

Fam Trip Sahabat Merapi

Gunung api aktif Merapi secara seismik akan selalu mengeluarkan lahar mematikan namun sekaligus membawa kesuburan. Aktivitasnya tahun ini mengingatkan warga Jogja pada erupsi 1994 dan 2006 lalu, berbagai kalangan lalu mewacanakan pentingnya pola hidup harmonis agar bersahabat dengan aktivitas Merapi. Penduduk perlu membaca kebiasaannya dan lebih arif bersanding dengan karakternya. Ya, manusia harus bersahabat dengan alam di kawasan Merapi, dan kehidupan yang terbangun disana perlu berproses sesuai watak gunung api itu.

Berbicara Sahabat Merapi ini ingatan tertuju pada ribuan murid dari 28 buah Sekolah berbeda yang rusak karena erupsi. Selengkapnya berjumlah 3.289 pelajar yang hidup pindah-pindah tak pasti di barak-barak Pengungsian Stadion Maguwoharjo, generasi Sahabat Merapi di Jogja Expo Center, di Kampus-kampus dan seterusnya. Mereka harus belajar dengan penanganan khusus, namun perlu terhibur membuka diri dan berwisata interaktif tentang gunungapi sekaligus kegiatan yang mengalihkan perhatian dari sekedar peristiwa erupsi. Ya, anak-anak harus terbebas dari beban penderitaan oleh sebab kondisi darurat kebencanaan ini, bahwa dibutuhkan familiarization (Fam Trip) bagi anak-anak Sahabat Merapi.

Kami Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Sleman dan institusi terkait lain pada tanggal 28, 30 Nov dan 01 Des mengajak mereka Fam Trip Sahabat Merapi. Berkendaraan gratis dari 3 titik Pengungsian diatas dengan membawa peserta tour trauma healing tersebut mengunjungi Museum Vulkanologi UPNIstana Ratu BokoTaman Pintar. Maksud terdalam disamping trauma healing adalah mengalihkan perhatian mereka di atas kebesaran Tuhan serta menjadi pembelajaran agar hidup bersahabat lebih dekat dengan gunungapi Merapi.

Tak kalah menariknya semangat bersahabat dengan Merapi kami wujudkan event dengan ‘napak tilas erupsi Merapi 2010 serta dampaknya’ melalui event Pameran Foto Merapi tanggal 5-8 Desember yang bertepatan pelaksanaannya dengan World Conference on Culture, Education and Science di Gedung Grha Sabha Universitas Gadjah Mada. Seluruh hasil dari penjualan ± 100 foto terpilih akan diperuntukkan bagi Kemanusiaan Sahabat Merapi. Semoga sumbangsih HPI dengan PWI, warga Kampus UGM, UII, UIN dan insan Pariwisata Jogja ini dapat menggugah bisnis pariwisata lebih cerah paska erupsi. ***