Seorang tour guide adalah pekerja independent yang bekerja secara individu sehari untuk mendapatkan sehari guide fee, sedangkan seorang pengusaha (yang memberi kerja tour guide) bekarja sehari dan mendapatkan pendapatan yang setara dengan pendapatan seorang guide yang bekerja berhari-hari.
Seorang guide berpenghasilan tidak setiap hari, akan tetapi kehidupan berlangsung tiap hari, maka jadilah seorang guide yang sekaligus menjadikan dirinya sendiri sebagai seorang pengusaha mandiri, yang dapat mencukupi kebutuhan hari ini, besok dan masa mendatang, keluarga dan orang-orang disekitarnya.
Tulislah ide-ide brilian anda disini untuk menyemangati tour guide agar dapat berperan menjadi pelaku pariwisata Indonesia yang diperhitungkan suaranya maupun pengabdiannya….atau menjadi pengusaha jasa pariwisata mandiri, sebagai UKM , yang berperan untuk meningkatakan perekonomian masyarakat Indonesia, secara mandiri.
Jangan lupakan tugas tourist guide adalah juga mengabarkan ilmu pengetahuan dan pengalaman panjang anda bagi orang lain tentang apa itu pramuwisata, pariwisata, bisnis UKM dan bahkan apa itu hidup. Maka ruang ini adalah kelanjutan dari HPI Promotion Board yang telah dikibarkan. Manfaatkan dan bantulah orang lain yang butuh informasi.. lewat KARYA TULIS ANDA semua…!
JUDUL : Multi Level Learning
ISBN : 978 979 19642 8 9
Ukuran : 20 cm x 13 cm x 0,7 cm
Tebal : 141 halaman
Penulis : Andi Mudhi’uddin
Cetakan : pertama, April 2009
Penerbit : Saroba Yogyakarta (Kelompok Juxtapose Korporasidea)
Harga : Rp 35.000,- bisa pesan di Koperasi (10 % buat KSU HPI)
Pada mulanya seseorang mau ‘belajar’ jika dirinya diliputi rasa ingin tahu atau penasaran yang mendalam. Hal ini telah mentradisi sejak zaman Yunani kuno –maka belajar dilaksanakan di waktu luang mereka– Dalam pendidikan formal dewasa ini, belajar bukan lagi untuk memuaskan rasa ingin tahu, namun lebih dari sekedar memenuhi tuntutan yang berlaku dalam masyarakat –yaitu siapapun jika ingin belajar mesti ‘bersekolah’ di institusi formal dengan jam-jam padat dan paket materi pelajaran yang dibatasi.
Buku Multi Level Learning ini hadir untuk mengembalikan tujuan hakiki dari belajar sebagaimana dilakoni orang-orang Yunani zaman dahulu, yakni ‘belajar apa saja, dimana saja – kapan saja untuk menuntaskan hasrat keingintahuan (scolae). Dengan semat itu buku ini menawarkan model belajar yang terispirasi dari bisnis jaringan Multi Level Marketing yang menurut sebagian orang dianggap virus dan menjual impian kosong.
Pujian untuk buku ini ditulis Dr. H. Adang Hambali, M.Pd., pendidik di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Bahwa esensi pendidikan adalah transformasi pengetahuan dan nilai-nilai. Seharusnya ia tak mengenal sekat-sekat ruang dan batasan waktu sebagaimana pendidikan formal dewasa ini. Buku Multi Level Learning mengajarkan bagaimana menjadi pembelajar dimanapun dan kapanpun. Disini, pendidikan adalah ikhtiar dan komitmen untuk mencerdaskan sekaligus menularkan nilai-nilai kebaikan.
Sedang menurut sosiolog UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Dr. Abdullah Sumrahadi: ‘Seharusnya pendidikan memang dekat dan bersinggungan dengan reaksi sosial, dimana nilai-nilainya built-in dalam keseharian masyarakat. Buku ini membuka horizon berpikir kita tentang melakukan pendidikan kapanpun dan dimanapun sepanjang hidup kita’.
Ternyata di balik berbagai kritik tentang MLM ada pedekatan, paradigma dan metode yang bisa diterapkan sebagai model pembelajaran yang efektif dan menyenangkan. Desain sampul warna kuning bertulisan yang membentuk lingkaran hati seperti mengajak pembaca dan siapapun agar melalui buku ML Learning, kita meraih bahagia belajar sepanjang masa. ***
JUDUL : Borobudur, Prambanan dan Candi Lainnya,
Menelusuri Jejak Peradaban
ISBN : 978 602 8001 27 4
Ukuran : 20 cm x 14 cm x 0,7 cm
Tebal : 126 halaman
Penulis : Andi Mudhi’uddin
Cetakan : pertama, April 2009
Penerbit : Kreasi Wacana Yogyakarta
Harga : Rp 17.500,- bisa pesan di Koperasi (10% buat KSU HPI)
Makna dan kedalaman ilmu pengetahuan pada candi –sebagai çandi– berada di balik simbol-simbol dan lambang tersamar dari arsitektur fisik, relief maupun keindahan bangunan Candi. Untuk mengungkap rahasia ilmu darinya perlu pengamatan dan pembacaan simbol tersebut, terutama melalui telaah sejarah yang melatar belakangi kemunculan simbol-simbol tersebut.
Melalui buku ini, kita diajak untuk mengamati dan membaca simbol-simbol yang terukir tersebut pada candi. Menurut penulis, catatan yang diterbitkan ini sejatinya adalah bagian dari naskah tahun 2006 setebal 286 halaman berjudul Yogyakarta: Jejak Peradaban Jawa. Langkah kecil penerbitan ini menjadi titik masuk untuk menelusuri jejak-jejak kalender waktu dan peradaban Jawa yang luas demi medapatkan kearifan hidup.
Kehadiran buku ini akan mengantar pembacanya pada obyek destinasi wisata Borobudur, Prambanan dan Candi Lainnya: Menelusuri Jejak Peradaban, sehingga berwisata bukanlah sekedar jalan-jalan tanpa makna. Membaca Candi Borobudur misalnya menjadi menarik karena selain dilengkapi lampiran dan daftar kata juga disertakan kisah Sidharta dengan sistem 5 Dhyani Buda. Bagi peminat bacaan relief fabel diterangkan pula Jataka dan cerita Tantri pada Candi Mendut.
Kekurangan mendasar buku ini adalah narasi yang kurang dikembangkan penulis, terutama cerita rakyat tentang Candi Prambanan. Tata penulisan daftar pustaka dan gambar hitam putih yang tak kualitas juga mengganggu pembaca. Itu mungkin cara penerbit melalui Lembaga untuk Kreasi Penerbitan Masyarakat menekan harga buku. Namun secara keseluruhan, penulis cukup berhasil menyajikan materi guiding ini menjadi sebuah
cuplikan budaya Jawa dari rangkaian ikon destinasi wisata. ***
TEKNIK MEMANDU WISATA
Ukuran : 20 cm x 14 cm x 0,7 cm
Tebal : 123 halaman
Penulis : Susetyo Prabowohadi
Cetakan : Maret 1983
Penerbit : -
Buku langka ini terdiri dari pembahasan mendasar tentang pengertian pariwisata, Biro Perjalanan Wisata, aneka bentuk perjalanan wisata serta berbagai komponen perjalanan. Sudah barang tentu sesuai judul buku, terdapat pembahasan menarik soal definisi Pramuwisata, dasar hukum, peran tugas dan kewajiban, organisasi pramuwisata, pembahasan Duta Wisata dan pengelolaannya. Hal teknik memandu dijelaskan sangat rinci mulai dari pertimbangan dasar seorang Guide, penampilan, cara komunikasi, memandu rombongan maupun perorangan. Disini penulis mengupas prosedur pelayanan, dari penjemputan, pemanduan, penghantaran, pembayaran serta laporan pemanduan.
Selanjutnya muncul permasalahan memandu dari problematik komunikasi, program perjalanan, barang bawaan turis, problem kesehatan, kehilangan barang dan perbelanjaan. Tak ketinggalan dibahas beberapa larangan yang perlu diperhatikan dalam memandu wisatawan, soal pelayanan wisata, aspek hankamnas, aspek kamtibmas dan aspek budaya. Hal lain yang perlu dari isi buku ini adalah aneka lampiran tentang UU pramuwisata yang berjumlah 12 salinan peraturan Menteri tahun 1970 – 1980.
Dari sumber perundangan tersebut profesi ujung tombak ini memiliki momentum kebenaran sebagai penentu dan penghubung industrial pariwisata di lapangan, apalagi tips penulis yang amat dibutuhkan bagi mereka yang ingin terus maju bagaimana memandu wistawan yang baik. Hanya sayang buku ini amat sulit didapat di toko buku, karena tak lagi terbit, namun Training Center HPI masih menyediakan beberapa copy, jika tertarik please hubungi Mbak Evy di Koperasi KSU HPI..!***
Panduan Praktis
PRAMUWISATA PROFESIONAL
Ukuran : 23 cm x 15 cm x 0,7 cm
Tebal : 149 halaman
Penulis : M Kesrul
Cetakan : pertama, April 2009
Penerbit : Graha Ilmu – Yogyakarta
Pariwisata merupakan salah satu penggerak ekonomi dalam meraih devisa negara. Oleh karena begitu pentingnya pariwisata, menurut M Kesrul dibutuhkan penciptaan dan pengembangan obyek wisata unggulan. Serta tidak kalah pentingnya mempersiapkan sumber daya manusia yang profesional, terutama pramuwisata sebgai orang terdepan dalam industri ini.
Bagi para praktisi guide, buku ini melengkapi bahan bacaan yang menyediakan info praktis dan cerdas dalamm rangka menjadi pramuwisata profesional. Bab I membahas Eksistensi Pramuwisata: guide service, definisi pramuwisata, tugas dan peran tour leader dan tour guide, persyaratan pramuwisata, kualitas pembeda Tour Leader dan Tour Guide, serta wujud penghargaan berupa Honor Pramuwisata.
Tentang kesiapan seorang pramuwisata, M Kesrul merinci di Bab II: pribadi pramuwisata, komunikasi pramuwisata, pengetahuan pramuwisata, segmentasi wisata, persiapan sebelum keberangkatan serta hal-hal penting yang harus diketahui guide. Sedang pada Bab III dijelaskan soal teknik pemanduan, penampilan pramuwisata, strategi menghadapi pertanyaan dan bagaimana menjawab, tips seni mengingat nama turis, kebijakan dalam acara perjalanan wisata beserta contoh teknbik memandu city tour di Jakarta. Hal ini penting sebagai pengetahuan paket tour, tipe dan bentuk perjalanan wisata yang mutlak harus difahami seorang guide (bab iv).
Isi menarik buku ada di bab V yang berbicara tentang evaluasi pemanduan, berisi: penerapan benchmarking, identifikasi kebutuhan wisatawan, tipe dan karakteristik turis mancanegara dan satisfaction trap. Hal unik disini penulis memberi contoh komentar dan tanggapan dari media cetak wisatawan tentang Guide Indonesia. Baru dibahas rinci materi pemanduan yang terdiri dari; bahasa Indonesia, obyek wisata candi, komoditi kopi (flora), pengetahuan ilmiah tentang 7 lapis langit yang membentang dan terpelihara, olahraga, pesona suku bangsa Indonesia, teknologi bahkan gaya ciuman, beberapa jokes serta fun games melengkapi penjelasan buku.
Tak ketinggalan contoh aneka budaya Jepang, Bali, Jawa, Sunda ada disamping daftar list of vegetables dan some words of indonesian food sebelum lembaran daftar pustaka. Yang pasti, pembaca akan mendapat manfaat dari tulisan guide senior asal Solok yang lulus Akademi Pariwisata Nasional – UNAS Jakarta tahun 1987, kini penulis adalah dosen di salah satu Lembaga Pendidikan Profesi di Jakarta.
Selamat meningkatkan profesi, sukses menyertai kita semua…dan kitapun sejahtera…. salam pramuwisata!***








2 Juli 2009 at 2:37 PM
MODAL NONFINANCIAL TOUR GUIDE
Tour guide adalah pengusaha jasa yang modal nonfinansialnya adalah yang paling besar dan tak dapat didelegasikan kepada yang lain karena menjadi bagian yang tak terpisahkan dari physikalnya. Resiko yang didapat terkait dengan besarnya modal nonfinansial tersebut, semakin besar modal nonfinansialnya semakin besar pula kemungkinan penghasilannya. tetapi seperti pengusaha pada umumnya meski bermodal besar kalau pangsa pasarnya tidak ada ya tentu tidak berpenghasilan alias bangkrut. Menjadi Tour Guide tentu sudah disadari bahwa harus berperan membantu mengembangkan pariwisata agar banyak orang datang untuk berwisata adalah mutlak menjadi tuntutan profesinya.
Apa modal Non financial Tour Guide itu ?
yang pasti personal skill, cara bicara menarik, berpengetahuan luas, supel, menguasai teknik teknik pemanduan secara profesional, humoris.. tambah satu lagi kalau ketawa ha..ha… ha….(maaf tak plesetke)
8 September 2009 at 12:52 PM
- seorang guide adalah manusia biasa tapi dituntut kerja profesional luar biasa, maka butuh kesadaran super dan kemauan keras untuk menjadi terbaik buat semua.
- ttg sterotipe profesi ini amat beragam, anekdot guide bali ber’uang’, guide sby rawan ‘aids’, hanya guide jogja beraneka ‘bahasa’ dan multi peran tuntutannya, so lupakan sterotipe tourist guide.
- hal pencapaian finansial or spiritual, sosok guide menjadi rujukan orang-orang untuk bicara mengadu… sementara guide mendengar/ memberi komen menyenangkan orng
terlepas hasil di tangannya sedikit ato banyak, bahkan ada ato tidak..siapa peduli
- maka junjunglah pribadi guide karena ilmu, wawasan, sikap dan pengalamannya. itu saja yg bakal menyenangkan dan bukan lain!
6 Oktober 2009 at 4:07 PM
Tepat hut HPI ke 21 kemarin di kompas 05/10 muncul opini pengamat, soal pramuwisata yg tdk menguasai budaya Jogja hanya, sebatas ‘pengantar tamu’, blm sebagai pemandu wisata, bagaimana akan bicara soal entepreneurship!
so, pengamat perlu berbasah-basah menjadi guide di lapangan baru tahu bahwa guiding bukan hanya wawasan dia butuh sikap positip ttg profesi ini, memiliki ketrampilan bahasa dan teknik guiding yg cukup.
so, mari diskusi perlunya belajar selamanya sambil menikmati menjadi pengusaha mandiri di usaha jasa pramuwisata yg menantang pertumbuhan tanpa batas.
salaam!
5 Desember 2009 at 8:18 PM
Pak saya bangga dengan himpunan bapak. saya maunanya pak, jadi seorang guid itu yang baik bagai mana ya pak?
6 Desember 2009 at 7:14 AM
Tour guide yang baik itu berdasrkan dari sudut pandang HPI:
1. secara administratif terdaftar sebagai guide resmi yang diakui secara hukum.
2. mematuhi kode etik
3. punya rasa solidaritas
4. Mandiri
7 Desember 2009 at 6:58 AM
Guide dan IT ?
Internet adalah Jendela dunia.
Dan Google bagai makhluk super yang serba tahu. Orang sekarang kalau mau cari sesuatu gak usah pergi kemanamana. Marketing sekarang gak usah mlaku siang-siang dan panas berdebu. skrg semua bisa dikerjakan didepan komputer. Hebat yo..?
Guide nek bar guiding, cukup kontak tamu lewat email dan bisa chating. piye kowe wis tekan omah durung? piye kabare? Nah pesan sponsor… Sesuk ojo lali yen ono sedulur and konco sing meh teko.. aku bantu..
itu kalimat ampuh kalau kita sering kita ucapkan dengan tamu.
Orang Padang bilang: Kalau anda Puas sampaikan kepada semua orang dan kalau anda lemas cepat hubungi saya.. he…
7 Desember 2009 at 7:24 AM
manusia emang biasanya punya dua karakter. pertama karakter pekerja dan kedua karakter pengusaha atau basa jawane entrepreneur. Nah Orang yang punya karakter pekerja atau pegawai bisanya cenderung memilih yang aman-aman saja, ra neko-neko. kabeh wis ono jatah dhewe-2. bekerja belajar dan bekerja lagi plus utang sana utang sini, itu pasti , hidup menjadi lebih konsumtif. nek wis utang biasanya kejiret utang dan susah untuk keluar dari lingkaran pekerja. cari langkah yang aman.
yang kedua karakter pengusaha. Dia biasanya suka tantangan dan mau mencoba hal baru. apa ada resiko? pasti. nyasar atau jatuh kepleset.. he…Orang tipe ini biasanya lebih cenderung mulih kerja, mampir dulu buat tambah sangu lagi. nek dapat duwit buat investasi.
ada anekdot: Nek anak cina dapat duwit 10jt sgr buka warung. nek anak pribumi dapat duwit 10jt sgr ke dealer motor.
Anda gimana???
2 Januari 2010 at 11:10 AM
@ pri – among – madan – heri dst pembaca yang budiman..!
lama sekali qt terkuras keringat guiding tanpa berkeinginan bangkit. utk sekedar berpikir beda mangasah “entepreneurship” yg qt miliki.. maka disamping usulan kalian, berikut kami up-load karya anggota HPI. Mungkin dg ini akan menyusul promosi intelek dan materi yang berdatangan..semoga!
modin
23 Desember 2010 at 10:34 AM
[...] Ø Bacaan inspiratif tulisan kakak2 Guide HPI yang pernah resmi diterbitkan, seperti tertuang beberapa di website http://hpijogja.wordpress.com/books-to-sell-buku-pariwisata/ [...]
29 Januari 2011 at 10:26 PM
kalo buku untu mengetahui manajemen pariwisata dan konsep pariwisata apa yaa? thanks.
22 Maret 2011 at 4:42 PM
saya bukanlah seorang guide tapi saya tertarik dengan buku2 yang ada di atas,
apakah hanya member dari HPI saja yang bisa membeli buku2 tersebut?
terima kasih
24 Maret 2011 at 6:31 PM
Silakan kontak ke nomer HP yang ada di website, jika persediaan masih ada akan kita kirim
6 Oktober 2011 at 4:06 PM
Ada lagi buku bagus, Judulnya “Sukses Menjadi Pramuwisata Profesional” karya Bambang Udoyono
24 April 2012 at 2:16 PM
Ada lagi bauku bagus judulnya ‘Sukses Menjadi Pramuwisata Profesional’ dan juga ‘English for Tourism’ oleh Bambang Udoyono