Ada tulisan mas Andi tentang enaknya menjadi tour guide dan juga ada lagi tulisan tentang mau kemana tour guide, semuanya adalah tulisan yang sangat menarik dan perlu dibaca, untuk dijadikan sumber inspirisi kalau ingin menjadi tour guide yang sungguhan, diposting kali ini disuguhkan tentang kapan tour guide harus pensiun atau dengan kata lain kapan tour guide harus di-grounded ?
Sekitar tahun 2006 setelah gempa bumi… selama tiga bulan sama sekali tidak ada jobs, dengan alasan situasi tidak aman, dunia pariwisata tergoncang, semua reservasi terkensel semua, semua kedatangan tertunda, effeknya masih terjadi tiga bulan kemudian, bahkan memerlukan bertahun-tahun untuk memulihkan image lagi sehingga orang akan merasa aman untuk datang lagi ke Yogyakarta, itulah masa yang teramat sulit bagi kehidupan tour guide
Betapa rapuhnya profesi tour guide hanya karena kaki lecet dia harus kehilangan 1 hari kerja, apalagi ada isu yang lebih mendunia misalnya penyakit menular .. order langsung lepas, tourist kabur dan tak mau datang lagi, ada isu teroris .. semua memindah liburan dari Indonesia ke negara lain yang lebih aman.., bencana alam apalagi .. turis tak lagi mau datang takut terken bancana.. Oleh karena bagaimananapun juga profesi tour guide adalah berhubungan langsung dengan turis , maka kehidupan tour dapat digambarkan dengan proverb “tourist datang, ada uang, itupun kalau ordernya tidak nyasar ke orang lain, tak ada tourist tak ada uang !!”
Inflasi sangat mempengaruhi nilai pendapatan tour guide, semakin hari nilai rupiah yang didapat tidak digunakan untuk memenuhi kehidupan keluarga, semakin hari semakin sulit dengan pendapatan sebagai tour guide. Ingin meningkatkan pendapatan tidak mungkin , manusia ada titik lelah sehingga order yang didapat maksimal 4 order perbulan, itupun kalau tanggalnya tidak bertabrakan satu order dengan order yang lain, sebagai contoh satu order terdiri dari itinerary seperti dibawah ini:
Day 1 check in.
Day 2 Borobudur dan City Tour.
Day 3 Prambanan tour .
Day 4 transfer to Airport.
Order yang seperti di atas sangatlah tidak menguntungkan walau durasi kerja adalah 4 hari akan tetapi fee dihitung berdasarkan jam kerja sehingga 4 hari kerja hanya mendapatkan 18 jam kerja. Satu kali order mendapatkan fee dari hasil kerja adalah sebesar RP 150.000 dan sebulan hanya dapat mengerjakan x 4 order (Rp 150.000x 4 = Rp 600.00). Rp 600.000 nilai yang teramat tipis untuk memenuhi kebutuhan pokok sebulan. Pendapatan yang tidak dapat diprediksi adalah dari hasil komisi, tips tamu yang apabila dikumpulkan sebulan hanya berkisar RP 400.000. Jadi kalau ditotal semua satu bulan mendapatkan RP 1.000.000, sehingga untuk mendapatkan tambahan biasanya menjual tour optional, menjual Ramayana Ballet, dan hasilnya masuk kantong sendiri setelah dibagi dengan driver dll.
Dengan nilai sebanyak itu ketika harus di bagi-bagi sesuai kebutuhan ternyata hanya dapat memuhi sebagaian kebutuhan pokok minimal, untuk keperluan yang lain seperti jaminan social, kesehatan, pengadaan kendaraan, tempat tinggal tidak pernah terpikirkan bagaimana caranya, karena memang tidak ada uang pendapatan yang tersisa untuk itu.
Seperti pada umumnya tour guide akan bermimpi mendapatkan kehidupan yang sejahtera dan lebih baik, mampu membeli pakaian baru buat anak dan istri, mempunyai rumah yang bagus, kendaraan yang nyaman, akan tetapi masa menjadi tour guide adalah masa dimana kita memenjarakan diri atau memaksakan diri dengan keadaan, keadaan dimana tour guide mau tidak mau, untuk sehari berkerja selama 10 jam hanya mendapatkan maximal RP 75.000. Ingin meminta tambah fee, tidak memungkinkan karena pasar mengatakan bahwa guide fee itu sehari hanya sampai Rp 75.000, apabila tour guide meminta kenaikan tour guide akan kalah oleh trik teman seprofesi yang mengatakan “Mas …. (isilah titik ini) order kanggo aku wae, aku dibayar berapun mau, asal order itu buat aku !”.
Masa pakai tour guide digambarkan sebagai diagram hiperbola, yang manjelaskan bahwa fase masa pakai seorang tour guide, seperti berikut:
Fase 1 seorang tour guide pemula setelah keluar dari masa penggemblengan di kawah Candradimuka akan mengalami masa dimana dia harus mendapatkan existensi dengan cara mempromosikan dirinya ke mana saja dari pintu ke pintu agar dirinya dikenal sebagai pendatang baru yang realible.
Fase 2 adalah fase di mana tour guide mampu mangatasi fase pertama dan pada fase ini tour guide dapat bekerja full power, laris manis dipakai dimana-mana banjir duit tips, komisi dan optional.
Fase 3 adalah fase dimana tour guide menjadi low power karena semakin aus, semakin lelah jiwa dan raga, jenuh dengan kegitan monotone dan semakin dekat dengan banyak penyakit dan semakin tidak mendapatkan order, karena ditinggalkan oleh travel biro.
Melihat fase diatas sangatlah penting bagi tour guide melihat berbagai kemungkinan yang terjadi dengan diri tour guide sendiri dimasa mendatang, masa tua adalah masa masa dimana tour guide sudah tidak kuat lagi memanjat candi Borobudur, tidak kuat lagi naik ke gunung Bromo, melihat teman seprofesi yang terkena strok ,yang mati terkena serangan pada saat berkerja, masa dimana anak-anak tour guide mulai memerlukan biaya yang sangat tinggi untuk melanjutkan sekolah. Berprofesi sebagi tour guide, bukan seperti buah kelapa semakin tua semakin banyak santannya, guide semakin tua, bukan semakin baik, akan tetapi semakin tua tour guide semakin tidak ada yang mau memberi order, dengan alasan semakin tua tour guide semakin beresiko mati saat sedang guiding, atau semakin tua semakin pikun , sedangkan sang pemberi order tidak mau mananggung resiko itu kematian tour guide, atau dikomplain tamu karena mempekerjakan seorang yang sudah udzur.
Keadaan semakin lama semakin tidak menguntungan, oleh karena itu tour guide harus memikirkan untuk segera menggantungkan seragam batik sebagai tour guide, dan harus dipertimbangkan dan dikaji akibat buruk dan akibat baiknya terlebih dahulu, sehingga tidak manyesal dikemudian hari dengan keputusannya untuk menggantungkan seragam batiknya, dan setelah itu tour guide diharapkan segeralah berpamitan dari dunia perguide-an dan pensiun menjadi tour, adalah sebuah solusi yang terbaik… selagi ada waktu untuk bermanuver mengatasi waktu tua seorang tour guide.
Loh kok pensiun bukannya nanti tidak ada pendapatan ?? Iya betul tidak ada pendapatan dari bekerja memandu, akan tetapi sangat disaran untuk tour guide yang sudah tidak enjoy dengan profesi, atau lelah psikis dan fisik untuk segera mengakhiri profesinya sebagai tour guide, karena dengan mamaksakan diri untuk bekerja dengan semangat yang tidak maksimal akan mengakibatkan hasil yang tidak maksimal sama sekali, dan dengan hasil yang tidak maksimal akan mengakibatkan tour guide menjadi bahan pergunjingan. Oleh sebab itu untuk mengantisipasi masa tua yang tidak sejahtera, tour guide harus jauh-jauh hari memikirkan usaha lain di luar dunia perguidan.
Dengan pensiun sebagai tour guide akan mandapatkan waktu akan terfokus untuk menciptakan aktivitas yang akan lebih mandapatkan banyak uang dengan tanpa berpanas-panasan diterik matahari, tanpa mengeluarkan air liur untuk berbicara didepan bus.., ngajak tamu berkunjung ke segitga emas atau ke KKK, tanpa stress dengan pedagang asongan, tanpa makian karena tidak mendapatkan gratuity, tanpa kekecewaan dengan order yang terkensel, dan yang penting tanpa dering telephon… ah tidur nyenyak , dan bulan Agustus dapat berlibur bersama anak-anak………
Baca artikel yang berhubungan http://hpijogja.wordpress.com/2011/12/15/kelelahan-psikis-seorang-tour-guide/