Komentar Tour Guide Tentang Amplop Artshop

Selamat pagi Di hari Minggu ini, coba saya akan sedikit share terhadap apa yang anda sampaikan di email saya. Coba kita kembali lagi ke sejarah, barangkali benar apa yang pernah dikatakan oleh Proklamator kita, BK, JASMERAH, jangan melupakan sejarah Tokoh tokoh ASITA, memang sudah berganti generasi, satu proses alamiah yang memang harus terjadi.

Coba saya kembali ke era 25 tahun yang lalu, entah pimpinan ASITA saat ini, sudah bersentuhan dengan per TURIS an atau belum saat itu, dari sanalah kita berpijak, karena yang sekarang ini ada, bukankah hnaya meneruskan apa yang sudah ada. Saat itu, selebriti tenar selevel RAE SITA SUPIT pun, pernah menduduki pimpinan ASITA (DPP), penulis pernah berinteraksi face to face dengan beliau, tahun 1989 an, saat itu, beliau juga menduduki jabatan GM di SAHID Tours (di Jakarta). penulis mendapat kepercayaan membawa group kecil, 11 orang dari belanda, group tersebut, juga merupakan group SERIE, walaupun kedatangan serinya (berkala) hanya sekitar 10 an kali/tahun, belum apa apanya disbanding UNITRAVEL (Satriavi, yang 6 – 8 group/minggu), atau De Boer en Wendel (VISTA Express, yang sampai 10-11 kali minggu sepanjang tahun), atau juga Bhayangkara yang mengoperasikan Van Ginkel, sekitar 3 group/minngu, atau yang tournya lebih panjang seperti SOC, 38 hari tours 5 pulau, dsb Karena SAHID hanya mengoperasikan tour sedikit, dengan label HOLWERDA Reisen (dari Den Haag, belanda, sticket Holwerda , kalau belum terkelupas bias dilihat di Pesta perak)

Nah, saat itu, yang jadi pimpinan ASITA DPD DIY adalah Bp.SLAMET SUHARJO (pimpinan NITOUR Inc) Modal dana (uang) dan network kawan kawan senior itu, luar biasa, hanya 1 dari sangat sedikit biro perjalanan di tanah air yang memiliki cabang di Luar negeri. Travel besar, seperti PACTO pun (yang kepemilikan sahamnya sudah beredar di bursa efek) bahkan tidak memiliki kantor (bukan hanya perwakilan alias representative) tetapi KANTOR CABANG di Luar Negeri. Nah, yang namanya NITOUR , memiliki kantor cabang di Amsterdam  (penulis pernah berkunjung kesana , tahun 1991) , juga di Tokyo (tanyakan kepada kawan kita mbak SANTI, yang kakaknya mas Iwan Guide jepang, tahun lalu mbak Santi pamitan kepada saya , untuk hijrah ke USA bersama 2 anaknya, LUAR BIASA !!! sebentar lagi tentu mbak SANTI akan menjadi WNA (warga Negara Amerika), nah mbak SAnti adalah sedikit dari kawan kawan divisi Jepang yang pernah guiding di NITOUR (Nederlands Indische Tour) Masih ada lagi kantor Nitour di San Fransico, dan kalau tidak salah juga ada di Hong Kong. Begitu juga dengan NATRABU, kurang jelas apakah Natrabu memiliki kantor di Eropa, tetapi kalau di USA penulis pernah mendatanginya, yang dikelola Patricia atau Barbara (mempekerjakan bule Amerika), setidaknya penulis perna membeli tiket pesawat jalur LA – Jakarta, sekitar 15 tahun lalu, dan nama travel tersebut juga NATRABU (anak pemilik natrabu, aduh lupa namnya, siapa bung Amrizal, sopo jenenge ?? mas Amrizal tahu lah, sesame URANG AWAK, dari Padang )

Untuk tidak memperpanjang prolog, intinya perlu penulis sampaikan bahwa Travel biro pada jaman itu , tidak banyak, mungkin hanya 15 – 20 an biro (SRIRAMA, MILANG KORI, MUSI HOLIDAY, VAYATOUR, TUNAS INDONESIA (Mekar Wisata pun belum lahir), VISTA EXPRESS, BHAYANGKARA, SMAILING, PURI TOUR, INTAN PELANGI (Ayu mandiri, masih ayu banget, belum didirikan oleh pak Aji, karena pak Aji masih ngantor di Intan pelangi, kalau ada kawan kawan, termasuk pimpinan ASITA saat ini, yang belum tahu dimana itu INTAN PELANGI, kantornya di depan hotel Mutiara, menyatu dengan halaman parkir hotel, merangkap Money changer (MULIA juga belum lahir, apalagi Maya valas di Saphir), ada lagi NITOUR, PACTO, pecahan PACTO kelak jadi RAMA, lalu sudah ada DEWATA, KRISTAL nya pak BEI Abdulrahman (kongsi pak Prabowo Spektrum), dan UNIVERSAL. Biro besar lainnya seperti PANORAMA, waktu itu Darma belum lulus sekolah, pak ADI Tirta Wisata baru mampu kredit BUS, yang kemudian disewakan ke SOC, Red Ball, ROTEL, dan biro kecil lain yang tidak memiliki armada (dengan kata lain, panorama hanya perusahaan transport, tidak memiliki tamu sendiri Belum ada senyawa turunan seperti AYu Mandiri, MJ, Grand Java, Mekar wisata, apa lagi Happy Trail dan motor trail lainnya…

Nah, pelajaran dari pak SALET SUHARJO eks Nitour Inc yang member ceramah licensi (penatarannya 3 bulan dulu, gak Cuma pelatihan 2 hari ala era otonomi daerah sekarang ini), beliau mengatakan, dan masih penulis ingat sampai sekarang: BIRO PERJALANAN ADALAH USAHA YANG DIDIRIKAN UNTUK MENDAPATKAN KOMISI DARI UNSUR UNSUR PENDUKUNG OPERASIONAL WISATA, SEPERTI : HOTEL, TRANSPORT, JASA PAKET WISATA DAN ART SHOP Saya pertajam lagi: MAKSUD DARI DIDIRIKANNYA BIRO PERJALANAN ADALAH UNTUK MENDAPATKAN KEUNTUNGAN DARI PARTNER KERJANYA, DIANTARANYA ADALAH TRANSPORT, HOTEL DAN JUGA ART SHOP !!!!!!!!!!!!!!!.

Sebagian besar biro travel anggota ASITA pada era sebelum tahun 1990 an, memiliki armada sendiri Satriavi memiliki 6 bus besar, Intan pelangi juga memiliki 5 bus besar (Mercedes OH Prima terbaru pada jamannya dengan pintu hidrolik) , Sri Rama pun memiliki bus sendiri (mikro dan armada kecil lainnya), juga SEMESTA (specialis Mandarin, walau tidak memiliki garasi tetapi juga punya bus besar), sampai sampai garasinya Cuma di pinggir jalan Solo (wetan cucian mobil jembatan Ngebruk-Kalasan), apalagi VISTA Express, wooooow bus nya puluhan, begitu juga NITOUR (memiliki bus Built Up, sopirnya mas ATHOK , masih sehat wal afiat – ayah mertuanya mas Panut, rumahnya belakang apotik lor prapatan gedong kuning), mas ATok dan NITOUR , mengendarai bus dengan AC pertama di Jogja, tahun 74-an. Begitu juga Paradise, juga memiliki bus besar 2, DEWATA apalagi, punya hotel, punya biro travel sak aramadanya.

Nah, bagi biro travel yang tidak memilki armada, ORA POPO , toh bias menyewa?? Kalau menyewa, coba kita kembali ke falsafah orang barat (amerika misalnya ) Saat saya menempuh studi di Paman Sam, untuk menghemat beaya, saya mesti share apartement dengan kawan kawan lainnya. istilah orang TIMUR, selalu saja dikatakan NUNUT (menumpang), tetapi pepatah jawa mengatakan: There is nothing such as a free lunch!! Alias tidak ada yang gratis di dunia ini. Jadi, tidak sekedar numpang tinggal, tetapi penulis juga ikut membayar , singkat cerita pola piker di USA akan menjadi: SHARING , bukan numpang tinggal di apartemen, missal harga sewa apartemen adalah US $ 500 / bulan, kalau dibayar sendiri, kalau kita tinggali berdua, jadi SITIK EDENG, menjadi ? US $ 250 / orang. Itu yang penulis maksud: meringankan uang sewa, atau membayar sebagian dari uang sewa, bukan lagi sekedar menumpang !!! Begitu juga dengan sewa menyewa armada .

Penulis tidak memiliki sebuah armada pun !!! mengapa ? banyak yang mendasari kebijakan ini, pertama karena memang lagi banyak utang !! kedua, penulis ingin berbagi dengan pemilik usaha transport (yang juga kawan kawan anggota HPI , seprti mas ARief, Mas handoko, mas HERI, dll), karena penulis punya konsep sederhana dalam ikut serta meramaikan jagad wisata ini, yaitu: EVERY BODY HAPPY baca tulisan saya mengenai: DALANG ORA KURANG LAKON = EVERYBODY HAPPY)., yang ke-3 tentu untuk maksud maksud efisiensi lainnhya. Nah, apabila pemilik transport (armada kecil, sedang maupun besar) seperti mas WILDAN yang sudah memilki ASYACO (ikut senang mas sampaian meningkat jadi juragan, tidak seperti waktu sampaian di White Shark, sangat arogan, koyo mung sampean sing duwe bus dewe, mugo mugo, dengan meningkatnya status sampaian dadi juragan, pola piker sampaian juga berubah, nek ora berubah, wah iso disepatani konsumen sampaian engko, amien …)

Nah, si pemilik bus, memang memiliki belasan bus!! Apa artinya kepemilikan bus berates ratus , apabila hanya ngendon di garasi ???? dalam artian tidak ada yang menyewa????? Nah, pemilik bus, perlu konsumen, betul begitu ? Konsumen , bias langsung pemakai (rombongan arisan PKK, ikatan orang tua murid, member organisasi social, dll yang ingin bareng bareng darma wisata ke mana lah, ATAU bias juga PEMAIN professional (lebih sederhananya BLANTIK = broker yang bernama biro perjalanan) Biro perjalanan dengan kelihaian network dan marketing, memiliki tamu potensial, yang memerlukan bus, dan pemilik bus membutuhkan konsumen, bahasa Jawanya; K L O P !!!!! maksudnya itu bahasa belanda, brur ! ha ha ha Ok, jadi, tidak ada yang gratis, semua mengacu pada 2 hal: factor: NEED and WANT !!!! tidak ada istilah NYILIH bus, yang ada adalah: IKUT MEMBANTU MA- YOKNE bus, kalau gak ada yang jadi broker, bus ora payu !! mulo bagi pemilik bus, rasah kemaki !!!! nek ora tak sewo, busmu nganggur, dab ! dengar itu mas WIldan ????? Ok, seperti kesimpulan sewa partement di USA tadi lho, saling membutuhkan: simbiosis mutualisme. Nah, sewa menyewa bus, bias sudah dengan harta NETT, misalnya, misalnya saja Rp.2.000.000/hari untuk luar kota, dimana angka Rp.2 juta tadi sudah Nett, Berapapun konsumen membayar (apabila melalui perantra, alias MAKELAAR, kenapa orang selalu berpikiran negative dengan istilah makelaar ?????? ini satu KELIRUMOLOGI bahasa yang perlu saya luruskan. MAKELAAR diambilkan dari kosa kata Belanda. Yang artinya adalah: Perantara, atau pialang, mengapa Pialang di bursa saham, seolah menentukan bonafid tidaknya suatu perusahaan di lantai bursa efek?? Apa bedanya dengan blantik sapi di pasar gamping?? Podo wae dab, hanya istilah yang beda, makelaar adalah juga pialang.

Mohon dipahami bersama. nah, bila memalui perantara, nettnya Rp.2.000.000, kemudian konsumen mendapat deal Rp.2.100.000, ada sisa angka Rp.100.000, sangat WAJAR menjadi HAK yang mencarikan tamu (dengan media apapun, pesan lewat telepon, sms, email, atau bahkan memalui proposal yang kelak akan di audit oleh BPK dan KPK, go ahead, podo wae) tetep SAH hukumnya, MENGACU pda pasal 1 ayat 1 yunto ! AAA grade A Plus, bahwa: BIRO PERJALANAN DIDIRIKAN DENGAN MAKSUD UNTUK MENDAPATKAN KOMISI DARI PARTNER KERJA, DIANTARANYA TRANSPORT Mas JOKO purwanggono, kawan kita, yang beberapa minggu lalu, diberi kesempatan beristirahat beberapa hari dip anti rapih (gimana, sir ?? sudah sehat lagi, jaga kondisi, dan gek waras, segera bergabung lagi dengan kawan kawan, tanggal 13 des, kita rncana jalan jalan nanti ya) Anyway, mas Joko P, tahun 1990an, pernah menyanggah ulasan wartawan salah satu harian di Jogja, bersamaan dengan kunjungan Dirjen JOOP AVE waktu itu, ada yang menulis; GUIDE JOGJA SUDAH DIBELI ART SHOP ! dengan gaya nya yang persuasive, tanpa ledakan emosi, mas Joko menjawab (di back up oleh mbak Komang pada jamannya) Suatu ketololan ngurusi amplop komisi !!!! opo urusane, dab !!! apakah wartawan mewakili wisatawan?? Lha wong sing tuku wae ora complain kok malah wartawane sing ribut !!

Mereka lupa, bahwa AD ART pendirian Biro travel adalah: salah satunya mendapat income dari Art Shop, what`s wrong with that, bro ???? dimana letak kesalahannya komisi, adalah hal yang tidak perlu di ekspose, apalagi yang meng ekspose, malah orang yang merasa member order, PIYE IKI ??? memercik air di dulang, terpersik muka sendiri !! Mengapa pihak pimpinan ASITA saat ini, suka memojokkan Guide ??? belum pernah jadi guide ya, mas ? sak ngertiku, pemilik biro travel, akan lebih hebat, pinter golek tamu dewe, rasah ngarep arep pemberian tamu dari agen atau sub agen atau sup sup buntut lainya, kalau pemilik biro tersebut, pernah jadi pemandu wisata, jadi merasakan dinginnya Bromo, panasnya Borobudur, capainya naik Kawah Ijen, dsb!. Dari pada memojokkan pihak lain, lebih bijak menyalahkan diri sendiri (SATU PELAJARAN BERHARGA YANG SAYA DAPATKAN SETELAH MEMBACA BUKU FENOMENAL BERJUDUL ILLEGAL ALIEN, ya, menyalahkan/menertawakan diri sendiri lebih bijak daripada menyalahkan orang lain) buku tersebut, bagi kawan kawan yang ingin membaca, bisa dibeli di Gramedia (harganya cuma  RP 42 rb kok)

Coba, kita telusuri lagi kasus diatas: Guide bekerja untuk siapa ?????? memang akan semakin banyak guide mandiri, cari tamu sendiri, tidak mencuri tamu orang lain, punya armada sendiri, kalau perlu di sopiri sendiri, sangat ZELFSTANDIG !!!! tetapi konteks yang ditulis di Harian Jogja adalah: guide tersebut membawa tamu milik biro!. Sepengetahuan penulis DEAL pembagian jatah komisi, ditanda tangani (tertulis maupun yang konvensional) antara pihak Art Shop dan pihak Biro Travel. Jadi, Guide hanya sekedar bekerja untuk biro travel, Guide mewakili travel yang bersangkutan. Lha kalau guide nya dapat komisi, tentu biro travelnya pun ikutan dapat juga !!

Terus, mangapa harus diekspose di mass media segala ?? Buat apa, bro !!!! Penulis memiliki jam terbang yang lumayan bervariasi, dalam perjalanan per KOMISIAN !!! kalau kita ingin jual tanah, tidak laku laku, datang perantara, yang menawarkan jasa, kemudian dari pemilik tanah, setelah tanahnya laku, si perantara mendapat komisi (terserah berapa prosentasenya), tentu hal semacam ini, adalah hal yang sangat wajar !! KOMISI pada era tahun 80 – an, sangat WOOOOW !!!!!! fantastico !!, baru transfer in dari airport, padahal tamu mendarat dengan flight no GANJIL !!! ya waktu itu hanya ada penerbangan dengan Garuda, Merpati tidak melayani route panjang, Sempati belum lahir, Bouroq cuma ke pedalaman Kalimantan, LION MANDALA, Batavia sriwijaya, Air Asia, dll, semuanya belum lahir. Nah waktu itu flight arrival dengan GA, selalu dengan kepala 6, total tetep 3 digit, apabila berkahiran genap: GA 632 atau GA 634 atau GA 638, berarti berasal dari Jakarta bila berakhiran ganjil seperti GA 631 atau GA 633 atau GA 635 berarti dari BALI Nah, arrival ganjil dengan GA pun, dari Airport menuju Santika (satu satunya hotel terbaru, lainnya Ambarukmo, Garuda, Mutiara, semua hotel JADUL), tamu (group lagi, dab !!), bisa dibelokkan ke kiri setelah traffic light IAIN (sekarang UIN), bahkan tanpa diinstruksikan pun, sopirnya juga berinisiatif, RASAH PAKAI SIGN BELOK , pun BUS nya bias belok sendiri, ha hah Dan hampir bisa dipastikan TAMU NYA NETEL saat itu art shop kidul gre-REL, berada di sebelah barat jalan, pakai gedheg bamboo, sangat primitive, tetapi sirkulasi pembelian tamu sangat produktif. Di utara HEGAR, kulon airport, ada one stop shopping bernama Sambisari, nek ra kober kemana mana, bawa saja ke Sambisasri gallery, atau ke Sapto Hudoyo disamping art art shop lainnya, tingkat produktivitas tamu meng apresiasi art crafts masih sangat tinggi. Itu sebabnya, hanya transfer In pun, tamu bias diharapkan NETEL, sekarang?????????? paradigm bergeser, mas ! Tamu sekarang juga lebih pinter, dan efisien, gak suka belanja lagi wajar, orang meraka kesini mau menatap Borobudur dari dekat kok, satu hal yang harus kita sikapi dengan cerdas. Romo Mangun almarhum pernah berkata: guide jangan punya pamrih, selain apa yang menjadi hak guide. hak guide secara structural adalah: FEE tolong fee tersebut dibahas dengan lebih komprehensif, Penulis mohon maaf jarang melibatkan kawan kawan HPI, kenapa ?? alasanya hanya satu: KARENA TAMUNYA GAK KUAT BAYAR GUIDE DENGAN HARGA STANDART !! Sebelum Musda HPI, dengan amanat Rp.250.000/day, penulis sudah melaksanakan amanat itu, beberapa tahun sebelum 2009 malahan! pertanyaannya adalah: SIAPA YANG MEMBAYAR GUIDE ?? tentu tamu yang ingin menggunakan jasa panduan , bukan Travel biro kok yang membayar Guide. Jadi, penulis mematok US $ 30/day untuk tour guide Bila tournya 9 days, Overland, berarti penulis membayar Guide juga 9+1 days ( empty run ) padahal tamu hanya membayar 9 x US $ 30 = US $ 270 atau sekitar Rp.2400 rb, padahal penulis membayar tetep saja full 250.000 x 10 = Rp.2.500.000 Lha ?? malah tombok Rp.100.000? ya demi teman teman HPI, gak papalah, toch penulis juga sudah mendapat profit dari sumber yang lain. Apa artinya Rp.100.000 ?? apa kah hal semacam sudah dipikirkan ASITA ??? kayaknya amanat Musda pun, masih diaplikasikan di lapangan dengan tarik ulur!! Gimana mas Edwin, anggota sampean sudah bayar Rp.,250.000/hari kah???? Freddy, Java Traveller malah sudah membayar Rp.300.000/hari tahun ini, Penulis pun juga sudah mengupgrade, member upah kawan kawan overland Rp.300.000/day saat ini, at least Rp.275.000 lah kalau missal di Bromo Cottage atau Kalibaru sudah dapat room buat guide ybs.

Tetapi, ya penulis lebih berpola pikir seperti tokoh SAPTO dalam buku ILLEGAL ALIEN tadi, lebih suka menyalahkan diri sendiri dari pada menyalahkan orang lain Kalau ada Biro travel yang membayar di bawah Rp.250.000/day, sebetulnya toch bukan salah biro travel, namanya juga usaha, tentu selalu timbul efisiensi, termasuk menekan cost untuk guide fee !!! SETUJU wis , kalau dari situ muara berpikirnya !! jadi kalau biro travel membayar murah, BUKAN SALAH BIRONYA, TAPI ???? YA SALAH GUIDE NYA SENDIRI, kenapa dia mau dibayar Rp.175.000/day !! lha wong guide yang bersangkutan saja mau, kok kita mesti ribut !! Nah, guide tidak boleh memiliki pamrih, tunaikanlah tugas kita, dengan sebaik baiknya, kalaupun tamunya senangm kemudian member tinggalan yang stereo, itu hanya akibat Begitu juga dengan AMPLOP art shop, komisi belanja, mas Edwin, adalah bukan tujuan usaha pemanduan, tetapi hanya merupakan AKIBAT acara tour (yang susunannya juga ditentukan oleh pihak biro perjalanan) So?? Buat apa kita berpolemik dan saling menyerang !!! Piro tho komisine?? Piro, dab !! ora sepiro o, ora cucuk karo modal pendidikan guide (katanya guide harus kompeten, ikut penataran a – k , kursus macem macem, lha tuntutane oukeh salek, sementara entuk bagian amplop art shop ora sepiro wae, diributkan) Kalau mas Edwin merasa jatah kantore kurang, sekali kali dibawa saja sendiri tamu sampean, Jadi sampean akan dapat komisi double: sebagai pengantar tamu, sebagai pemilik biro, nek perlu di sopiri dewe sisan, nanti kan jumlah komisinya bias sampai 175 %

Salam wisata TULISAN INI HANYA UNTUK KALANGAN SENDIRI

Jejak Astronomis di Candi Borobudur

Jejak Astronomis di Candi Borobudur

Kemegahan Candi Borobudur (satellite view coordinate 7°36’28″S 110°12’13″E) tidak hanya menunjukkan kemampuan rancang bangun nenek moyang bangsa Indonesia yang mengagumkan.

Penempatan stupa terawang maupun relief di dinding Borobudur ternyata menunjukkan penguasaan mereka terhadap ilmu perbintangan alias astronomi.

Penelitian selama 2,5 tahun yang dilakukan Tim Arkeo-astronomi Borobudur, Institut Teknologi Bandung, menunjukkan, stupa utama candi Buddha terbesar di dunia itu berfungsi sebagai gnomon (alat penanda waktu) yang memanfaatkan bayangan sinar Matahari.

Stupa utama yang merupakan stupa terbesar terletak di pusat candi ada di tingkat sepuluh (tertinggi). Stupa utama dikelilingi 72 stupa terawang yang membentuk lintasan lingkaran di tingkat 7, 8, dan 9. Bentuk dasar ketiga tingkat itu plus tingkat 10 adalah lingkaran, bukan persegi empat sama sisi seperti bentuk dasar pada tingkat 1 hingga tingkat 6. Jumlah stupa terawang pada tingkat 7, 8, dan 9 secara berurutan adalah 32 stupa, 24 stupa, dan 16 stupa.Jarak antar stupa diketahui tidak persis sama. Pengaturan jumlah dan jarak antar stupa diduga memiliki tujuan atau makna tertentu.

“Jatuhnya bayangan stupa utama pada puncak stupa terawang tertentu pada tingkatan tertentu menunjukkan awal musim atau mangsa tertentu sesuai Pránatamangsa (sistem perhitungan musim Jawa),” kata Ketua Tim Arkeoastronomi ITB Irma Indriana Hariawang di Jakarta, Rabu (18/5/2011).

Tim beranggotakan satu dosen dan empat mahasiswa Astronomi ITB, satu mahasiswa Matematika ITB, dan seorang peneliti Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional.

Temuan mereka dimuat dalam prosiding 7 International Conference on Oriental Astronomy di Tokyo, Jepang, pada September 2010.

Sebelum korelasi antara bayangan stupa utama dan stupa terawang diketahui, tim terlebih dahulu menentukan bayangan lurus stupa utama saat Matahari berada di garis khatulistiwa (garis nol pada grafik lintasan awal musim). Pada saat itu Matahari terbit tepat di titik timur garis dan terbenam tepat di titik barat garis.

Hasil ini menunjukkan posisi Borobudur sesuai arah mata angin. Arah utara-selatan menunjuk posisi kutub utara Bumi dan kutub selatan Bumi, bukan utara-selatan kutub magnet Bumi. Posisi itu ditentukan tanpa bantuan alat penentu posisi global (GPS).

Dosen Astronomi ITB yang juga anggota Tim Arkeoastronomi Borobudur ITB, Ferry M Simatupang mengatakan, sekitar tahun 800 masehi saat Borobudur dibangun, nenek moyang bangsa Indonesia sudah mampu menentukan arah utara-selatan dengan benar menggunakan teknik bayangan Matahari.

Cara paling sederhana menentukan arah utara-selatan secara benar adalah menandai bayang-bayang gnomon (jam matahari sederhana) pada lingkaran simetris. Jika bayang-bayang gnomon pada dua sisi lingkaran yang berseberangan dihubungkan, menunjukkan arah timur-barat dengan benar. Garis yang tegak lurus dengan garis timur-barat dengan benar adalah garis utara-selatan yang juga benar. ”Fakta bayangan stupa utama Borobudur sebagai penanda awal musim dalam Pránatamangsa baru temuan awal penelitian, masih banyak penelitian-penelitian lanjutan yang harus dilakukan,” katanya.

Menurut Simatupang, tim akan meneliti hubungan bayangan stupa utama dengan stupa terawang dalam tiga dimensi. Hasil ini akan menajamkan garis awal musim yang sudah diperoleh dari citra dua dimensi. Saat ini citra tiga dimensi Borobudur sedang dikerjakan oleh pengelola Candi Borobudur. Tim juga berencana melihat apakah posisi stupa atau bayangan stupa memiliki hubungan dengan prediksi gerhana Matahari atau gerhana Bulan.

Konfigurasi situs megalitik umumnya memiliki kaitan dengan penentuan waktu, baik kalender maupun prediksi gerhana. Selain itu, tim juga berencana mengetahui tahun tepat Borobudur didirikan berdasarkan struktur asli Borobudur. Struktur Borobudur saat ini merupakan hasil rekonstruksi beberapa kali yang dilakukan pemerintah kolonial Belanda maupun Pemerintah Indonesia atas bantuan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB (Unesco).

Saat ditemukan tahun 1800 oleh tim yang dipimpin Sir Thomas Stamford Raffles dari Inggris, Borobudur hanya berupa puing-puing. Namun, penelitian ini tidak mudah. Penelitian arkeo-astronomi masih baru di Indonesia. Aspek astronomis dalam candi Buddha juga jarang ditemukan.Ahli dan literatur yang ada pun terbatas. Kerja sama antara astronom dan arkeolog perlu dilakukan untuk lebih memperlancar penelitian.

Pengetahuan astronomi

Sejumlah relief di Candi Borobudur juga menunjukkan kemampuan nenek moyang bangsa Indonesia dalam penguasaan ilmu perbintangan. Hal itu, menurut Irma, salah satunya ditunjukkan dengan gambar perahu-perahu pelaut berbagai ukuran di dinding candi.

Gambar perahu itu menunjukkan mereka adalah bangsa pelaut. Untuk mampu mengarungi lautan, dibutuhkan kemampuan navigasi (menentukan arah) yang panduan utamanya bintang-bintang di langit.

Kapal Borobudur, Samudera Raksa sedang berlayar di Tanjung Priok, Jakarta (2003). dalam Ekspedisi Cinnamon. Dari Jawa hingga ke Accra, Ghana di pantai barat benua Afrika, membuktikan bahwa hal tersebut memang terjadi bagi kapal tradisional dengan cadik ganda persis seperti awal abad 8 Masehi yang tergambar pada relief di Candi Borobudur. Namun sebelumya terlebih dahulu akan berlayar ke Tanjung Harapan (Cape of Good Hope) di Afrika Selatan kemudian barulah ke Accra di Afrika Barat. Beberapa saintis percaya kapal ini dibuat oleh orang Indo-Melayu kuno. Replika modern kapal layar cadik ganda Samudera Raksa relief dari Borobudur tiba di Durban, Afrika Selatan pada tanggal 1 Desember 2003 sebelum melanjutkan perjalanan ke Accra, Ghana di Afrika timur (2003—2004). Kapal layar cadik ganda asal Indonesia abad ke-8 dahulunya memiliki misi menjalin hubungan dagangan antara Indonesia – Afrika melalui “Rute Cinnamon” yang ditempuh pedagang Indonesia dari dan ke Afrika. Kapal sepanjang 15m ini dibangun dengan metode tradisional yang didasarkan pada desain yang sama dari ukiran relief di Candi Borobudur.

Salah satu bintang yang menjadi penunjuk arah adalah bintang Polaris (Ursae Minoris / Alpha Ursae Minoris) kadang disebut juga sebagai Bintang Kutub Utara.

Polaris adalah bintang paling terang di rasi Ursa Minor. Bintang ini terletak sangat dekat dengan kutub langit utara atau bintang yang terletak tepat di atas kutub utara Bumi hingga disebut sebagai Bintang Utara.

Polaris alpha ursae minoris (Bintang utara)

Polaris menjadi acuan arah utara bangsa-bangsa di belahan Bumi utara. Nama bintang ini banyak disebut dalam sejumlah manuskrip umat Buddha.

Sebelum tahun 800, Polaris dapat dilihat dari Nusantara di sekitar Borobudur. Bintang terang ini mudah diamati karena hanya bergerak di sekitar horizon (ufuk langit).

Namun, sejak tahun 800 hingga kini, posisi Polaris semakin di bawah horizon akibat gerak presesi (gerak Bumi pada sumbunya sambil beredar mengelilingi Matahari) sehingga Bintang Utara tidak mungkin lagi dilihat dari Nusantara.

Karena Polaris tak bisa diamati, pelaut mencari bintang penanda utara lain, yaitu rasi Ursa Mayor (Beruang Besar). Jika dua bintang paling terang dalam rasi ini, yaitu Dubhe dan Merak, ditarik garis lurus, akan mengarah ke Polaris. Hal ini membuat Ursa Mayor menjadi penanda arah utara lain.

Tampak pada relief Borobudur diatas, bintang Ursa Mayor (7 buah bulatan ditengah bagian atas) diapit oleh bulan sabit (kiri) dan matahari (kanan)

Pentingnya rasi Ursa Mayor (koordinat 11j 18m 46d, +50° 43′ 16?) bagi masyarakat saat itu ditunjukkan oleh gambar relief bulatan-bulatan kecil pada tingkat ke-4 Borobudur di sisi utara. Tujuh bulatan kecil itu diapit oleh lingkaran besar yang diduga Matahari dan bulan sabit yang dipastikan simbol bulan.

Dari Bumi, Ursa Mayor terlihat sebagai tujuh bintang terang. Nama Dubhe dan Merak berasal dari bahasa Arab.

Dubhe dari frasa thahr al dubb al akbar (punggung beruang besar), sedangkan Merak dari kata al marakk yang artinya pinggang karena posisinya di pinggang beruang.

Irma menambahkan, selain Ursa Mayor, tujuh bulatan itu diduga sebagai Pleiades (tujuh bidadari). Masyarakat Jawa mengenal kluster bintang terbuka ini sebagai Lintang Kartika. Nama ini berasal dari bahasa Sansekerta krttikã yang menunjuk kluster bintang yang sama.

Peta rasi bintang Ursa Major

Kluster (kumpulan) bintang ini populer di Jawa karena kemunculannya menjadi penanda dimulainya waktu tanam.

Dugaan tujuh bulatan itu adalah Pleiades muncul karena hampir semua bangsa memiliki kesan mendalam dengan kluster bintang ini.

Bangsa Jepang menyebutnya sebagai Subaru, sedangkan masyarakat Timur Tengah menamainya Thuraya.

Namun, jika diamati dari Borobudur, posisi Tujuh Bidadari ini di dekat arah timur benar saat terbit dan di dekat arah barat benar saat terbenam. Posisi kluster ini tidak cocok dengan letak tujuh bulatan di dinding utara Borobudur.

”Kecil kemungkinan tujuh bulatan itu adalah Pleiades, melainkan Ursa Mayor karena posisinya menghadap penanda arah utara,” kata Irma.

Sumber: http://indocropcircles.wordpress.com/2011/05/25/jejak-astronomis-di-borobudur

YUK BELAJAR IKUT KURSUS GUIDE

Visi Himpunan Pramuwisata Indonesia tentang profesi tourist guide perlu disatukan sesuai arti etimologis bahasa bukan lagi pemandu wisata melainkan pramuwisata sesuai Anggaran Dasar HPI dan bahkan UU Nomer 10 Tahun 2009 menyebut demikian. Makna istilah terminologis ini Pramuwisata yakni seseorang yang bertugas memberikan bimbingan, penerangan dan petunjuk tentang obyek wisata serta membantu segala sesuatu yang diperlukan wisatawan di suatu wilayah tertentu dan atau di seluruh wilayah Indonesia.

Pramuwisata Indonesia terdiri dari tourist guide & tour leader (seseorang yang bertugas mengatur, memimpin perjalanan rombongan wisatawan di suatu wilayah tertentu, nasional dan atau  internasional) memiliki kebanggaan  profesional yang dibuktikan dengan sertifikasi kompetensi sesuai ketentuan Standar Kompetensi Kerja Nasional indonesia. Oleh karena itu HPI memiliki concern bagaimana menjaga regenerasi profesi ini dengan menyiapkan tatanan sistem diklat melalui Training Center HPI yang langsung diampu oleh senior Guide yang kompeten untuk itu.

Periode pembelajaran saat ini adalah kebutuhan akan tenaga Pramuwisata yang siap dengan multi ragam layanan termasuk  materi pemanduan, ketrampilan bahasa, etika layanan wisata, ilmu paket wisata dan seterusnya. Disinilah TC HPI bekerjasama dengan Jogjakarta Tourism Training Center menawarkan paket Pelatihan Calon Guide Umum yang rincian materi Kursus  antara lain tertera dalam tulisan disini edisi lalu

http://hpijogja.wordpress.com/2011/07/29/pelatihan-calon-pramuwisata-jogjakarta/ yang bisa dikombinasi dengan kepentingan kewilayahan masing-masing destinasi pariwisata dimana anda berada membutuhkan profesi Pramuwisata ini. Sebagai banding disinggung skim materi pelatihan berikut yang pernah dijalankan di Yogyakarta beberapa waktu lalu.

Alternatif skim Materi Pelajaran ‘Training Center HPI’ untuk calon guide:

Kategori

No

Mata Pelajaran

Jam

Pelajaran Umum

1.

Sejarah & Kebudayaan

12

2.

Prosedur check in & check out

10

3

Pengetahuan Umum (Flora Fauna, GBHN)

6

4

Seni dan Kerajinan

8

5

Lands & People (Pemahaman Lintas Budaya)

8

Pelajaran Khusus

6

Geografi Pariwisata

8

7

Paket Wisata

8

8

Guiding Technique

12

9

Kepabeanan (Imigrasi, Bea Cukai, Karantina)

6

10

Kepemimpinan dan Organisasi Pariwisata

6

11

Dokumen Perjalanan Wisata

6

Pelajaran Penunjang

12

Table Mannaer & Kuliner

6

13

Etiquettte & Protokol

6

14

Sitem Pengamanan Wisatawan (PPPK)

4

15

Pemanduan Minat Khusus (Muatan Lokal)

4

110