TAMANASARI

Didirikan sebagai pesanggrahan di lingkungan kraton mulai tahun 1684J (1758M) atas perintah Sri Sultan Hamengkubuwono I hingga selesainya jalan bawah tanah dengan condrosengkolo “Pujining Brahmono Ngobahake Pajungutan” bermakna tahun 1687 atau 1761M, kemudian dirampungkan pembangunan gapura inti tahun 1765. Menurut J. Groneman pendiri Tamansari adalah Sri Sultan Hamengkubuwono I dibantu putranya Pangeran Natakesumo, R.T. Mangundipuro, Adipati Madiun Ronggo Prawirodirjo dan Lurah Dawelingi, seorang arsitek asal Portugis yang ditemukan terdampar di pantai selatan. Maka kelihatan sekali bahwa bangunan fisik pesanggrahan ini merupakan perpaduan gaya Jawa dan Portugis. Kita patut bersyukur dampak gempa Jogja 2007 tidak memporandakan seperti pada bangunan Candi Prambanan, hingga wisatawan tetap dapat berkunjung serta belajar darinya.

Taman seluas 16 ha ini seperti ditulis dalam Obyek Wisata Tamansari (Herumarwoto, 1994) pada awalnya berstatus otonom dikelola oleh KRT. Mangkuwiloyo dan beberapa abdi dalem lain, karena mahalnya beaya perawatan dan akibat gempa bumi 1814 dan gempa 10 Juni 1867 maka sejak pemerintahan HB IV, Tamansari ditutup. Dan usai pemugaran 1972-1974 dibuka untuk umum sebagai tujuan wisata, terutama setelah renovasi tahun 2005 yang melibatkan bantuan luar khususnya pemerintah Portugal, menjadikannya sebagai kebanggaan budaya bangsa. Bangunan pesanggrahan dapat dikenali dari tiga kondisi, yang masih utuh yaitu gapuro, rumah gedung, urung-urung bawah tanah, sumur gemuling, tembok dan kolam segaran. Kedua golongan bangunan yang rusak belum pernah dipugar, dan jenis bangunan ketiga yakni yang sama sekali tak berbekas.

Memasuki Pesanggrahan yang berlokasi di Kampung Taman, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta bisa dengan berjalan kaki dari kraton melewati Rotowijayan, Pasar Nagasem kemudian masuk Jalan Taman menuju Gerbang Kenari di sebelah timur kompleks. Pintu masuk ini merupakan gerbang belakang, karena bagian utama gerbang kini menjadi perkampungan penduduk dan ramai pula dengan kegiatan wisata seperti kedai seni membatik pada lorong-lorong gang, maka Gerbang Kenari itulah pintu utama Tamansari. Kondisi ini justru menunjukkan kearifan orang kecil yang tidak mengusik apalagi merusak situs monumen kebesaran HB I, namun justru menggambarkan dinamika Jogja modern dengan masa lalunya serta memuaskan rasa ingin tahun wisatawan tentang bangunan pesanggrahan dengan lingkungan hunian sekarang.

Ciri umum arsitektur Tamansari adalah tangga setengah melingkar, cukit diatas pintu, bingkai atap perpaduan padma-pelipit, hiasan banaspati pada tutup keong, atap berbentuk sirup kayu dan makara. Beberapa bagian Tamansari adalah sebagai berikut:
o Gapuro : Pintu gerbang utama mengahadap ke barat, berbentuk empat persegi panjang.
o Gedung Sekawan: Tempat peristirahatan keluarga kraton, berbentuk bujur sangkar beratap, cukit disetiap pintu yang berbentuk plengkung, bentuk sungkup mengikuti bentuk limas, dan bangunan dari tembok bercor semen.
o Gedung Temanten : Tempat penjagaan (pecahosan).
o Pangunjukan : Tempat penjagaan prajurit.
o Gapuro Segaran : Gerbang menuju kolam pemandian bentuk atap rumah konstruksi tembok, pintu berhias kala. Pemandian terbagi dalam pemandian Raja, pemandian Putri dan pemandian Putra yang kini tertutup sebagian perkampungan.
o Pongangan : Tempat merapatnya perahu, dimana pada suwunan terdapat patung burung Beri.
o Urung – urung : Jalan rahasia bawah tanah (subteranian) yang berada di bawah tanah lebar 2.80m tinggi 2.13m disain berbentuk huruf L, atap limasan (atap kampong bujur sangkar), sungkup berbentuk lunas kapal. Lorong ini pada beberapa puluh meter diinterupsi menara ventilasi sekaligus penerang cahaya matahari. Dari luar, atap limas menara menjadi penanda dimana arah lorong itu menuju.
o Sumur Gemuling : Bangunan masjid bertingkat, bulat berongga seperti sumur, atap bercukit, sungkup berbentuk lengkung dan sungkup kerucut bertangga empat menutup sumuran, terdapat mihrab, jendela setinggi 80cm, tebal tembok 1.20m.
o Pulau Panebung : Bangunan bertingkat tempat samadi Sultan, terletak di tengah air.
o Pulau Kenanga : Bangunan utama setinggi 12 meter tempat menerima tamu resmi, menghadap ke utara-selatan berbentuk empat persegi panjang dengan atap limasan.

Mengetahui fasilitas pesanggrahan dengan segaran yang mampu menampung air 1juta m3 dari sungai Winongo dan Code ini menunjukkan kemampuan teknologi yang rumit. Tamansari secara fungsional juga sebagai benteng pertahanan, tempat peribadatan, peristirahatan dan penyedia air di musim kemarau. Fungsi lain sebagai area tetumbuhan jenis buah-buahan yang dibutuhkan sewaktu-waktu dalam masa sulit atau buruknya hasil panen padi yang ditanam penduduk. Jenis tanaman pokok berada di komplek yang amat penting dikonsumsi tiap musim yaitu sayuran dan buah-buahan seperti mangga, papaya, nanas, jambu, kelapa gading, cengkeh, mrica, pala, pandanwangi, sirih, delima, sukun, durian, apokat, manggis, sawo, nagasari, rambutan dan pisang. Semua masih dijumpai di pesanggrahan Tamansari.

Di sela pepohonan terdapat pembuatan alat-alat persenjataan keris, tombak, towok dan lapak sepatu kuda, seperti pernah ditemukan berupa keris dan sepatu kuda berukuran besar. Dalam suasan perkampungan di sela-sela tanaman buah-buahan asik beberapa seniman sedang membatik dan melukis, mereka tak pernah terganggu dengan lalu-lalang pejalan kaki yang sering berombongan, baik wisatawan dengan tustel siap mengabadikan kehangatan Jogja.
Taman Segaran kini meninggalkan aroma kecanggihan budaya masa lalu, banyak memberi inspirasi mereka yang ingin mendalami seni bangunan, keindahan tata ruang dan keterpaduan suasana lingkungan. Satu sisi peninggalan ini menunjukkan kekuasaan dan kemampuan Kraton Ngayogyakarta di awal masa berdirinya. Kini sering dijadikan tempat anekaseni pertunjukan seperti pengambilan gambar-gambar foto model, film layar lebar dan sinetron maupun untuk lokasi gala dinner dengan alternatif pengalaman makan malam penuh suasana romantis. Sungguh, hanya di Taman Segaran sarana wisata budaya tersebut dapat ditemui di kota Yogyakarta. []

*) Artikel Opini pernah dikirim untuk Harian Kedaulatan Rakyat 25.09.2007, dimuat pada News Letter Cendrawasih edisi ke-3, bahan berasal dari naskah buku Jejak Peradaban Jawa (2006).

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s