Keseluruhan kegiatan yang terkait dengan dunia pariwisata adalah cakupan layanan kepariwisataan. Di sini membutuhkan beragam fasilitas pendukung, berupa sarana prasarana dan aneka layanan jasa pariwisata. Sedangkan aneka usaha jasa pariwisata dalam pasal 14 UU Kepariwisataan No 10 Tahun 2009 yakni: daya tarik wisata, kawasan pariwisata, jasa transportasi wisata, jasa perjalanan wisata, makanan dan minuman, penyediaan akomodasi, jasa informasi pariwisata, konsultan pariwisata, jasa pramuwisata, penyelenggaraan kegiatan hiburan dan rekreasi, pertemuan, perjalanan insentif, konferensi dan pameran, wisata tirta, dan usaha spa.

Dengan demikian industri jasa pariwisata bersifat multidimensi usaha serta multidisiplin layanan dari kebutuhan setiap orang perorang atau bahkan intervensi negara. Di dalamnya terdapat wujud interaksi antara wisatawan dan calon investor di satu sisi dengan stakeholders yaitu seniman budayawan masyarakat setempat, pelaku jasa wisata tersebut di atas, perguruan tinggi, pemerintah, pemerintah paerah, dan pengusaha. Suatu posisi penting diemban oleh Jasa Pemandu Wisata yang menghubungkan wisatawan (calon investor) di satu sisi dengan pemangku kepentingan tersebut, dan itulah mengapa profesi ini disebut ujung tombak layanan pariwisata.

Diantara tugas yang melekat pada profesi Pemandu Wisata antara lain; memberi informasi daya tarik wisata mengantar perjalanan wisatawan, memberi jasa layanan kepemanduan berupa bimbingan, penerangan dan petunjuk wisata, menjaga rasa aman perjalanan, menjelaskan tujuan kedatangan di Daerah Tujuan Wisata, menciptakan kesan positif pada wisatawan, memberi kenyamanan atas pengalaman wisata, memberi ‘nilai’ atas perjalanan wisata agar lebih bermakna serta membantu segala sesuatu yang diperlukan wisatawan.

Sebagai gambaran tugas diatas, seseorang Pemandu bertanggung-jawab menjamin kepuasan berlibur wisatawan yakni tour terlaksana sesuai promosi yang dijanjikan. Untuk itu Pemandu Wisata harus melakukan rekonfirmasi komponen tour yang wajib selama bekerjasama dengan Biro Perjalanan Wisata (BPW), memimpin rangkaian penjemputan (check-in) dan pengantaran (check out), menjual jenis tour optional yang diharapkan, melaksanakan rangkaian tour, mengurus masalah dasar tour dan menyempurnakan laporan & data wisatawan kepada pihak kepentingan.

Maka apakah ujung tombak layanan disini seorang Pemandu Wisata Umum, pemandu domestik atau mancanegara, seorang guide lokal atau minat khusus seharusnya memiliki sikap professional dan ketrampilan yang cukup, yaitu berupa: Pengetahuan ilmu bumi pariwisata, wasasan tentang posedur teknik layanan informasi ke pusat-pusat destinasi baik perjalanan wisata kota maupun perjalanan wisata dalam negeri, pengetahuan tentang sejarah, heritage kota, kependudukan, seni kerajinan, adat tradisi dan kebudayaan, tour planner, wisata kuliner dan pengetahuan lainnya.

Penjelasan seorang Guide disini amat penting, sebab dengan adanya jasa pemanduan di atas setiap wisatawan yang datang ke suatu obyek wisata berhak memperoleh: informasi yang akurat mengenai daya tarik wisata; pelayanan kepariwisataan sesuai dengan standar; perlindungan hukum dan keamanan; pelayanan kesehatan; perlindungan hak pribadi; dan perlindungan asuransi untuk kegiatan pariwisata berisiko tinggi.

Setiap wisatawan di dalam UU Kepariwisataan disebut berkewajiban: menjaga dan menghormati norma agama, adat   istiadat, budaya, dan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat setempat; memelihara dan melestarikan lingkungan; turut serta menjaga ketertiban dan keamanan lingkungan; dan mencegah segala bentuk perbuatan yang melanggar kesusilaan dan kegiatan yang melanggar hukum.

Sebagai risiko lain yang perlu disadari, bahwa seorang Pemandu Wisata saat ini harus menyiapkan Pengetahuan yang tentang ekowisata, yakni bangunan kesadaran kesehatan lingkungan, ikut menjaga konservasi alam agar tetap hijau sehingga bumi kita bisa terus mensejahterakan penghuninya keseluruh penduduk. Saat ini dimana-mana wisatawan menginginkan layanan terbaik demi mengenal lebih dari sekedar bacaan buku, maka persiapan dini bagi pekerja lapangan kepemanduan amatlah penting dilakukan sebaik-baiknya termasuk dengan aktif belajar dan mengikuti kegiatan KURSUS pembekalan, SEMINAR kepariwisataan dan semacamnya, sehingga pembangunan pariwisata bisa dirasakan manfaatnya bagi masyarakat, khususnya profesi layanan jasa pariwisata sendiri. []

Ada tulisan mas Andi tentang enaknya menjadi tour guide dan juga ada lagi tulisan tentang mau kemana tour guide, semuanya adalah tulisan yang sangat menarik dan perlu dibaca, untuk dijadikan  sumber inspirisi kalau ingin menjadi tour guide yang sungguhan, diposting kali ini disuguhkan tentang kapan tour guide harus pensiun atau dengan kata lain kapan tour guide harus di-grounded ?

Sekitar tahun 2006 setelah gempa bumi… selama tiga bulan sama sekali tidak ada jobs, dengan alasan situasi tidak aman, dunia pariwisata tergoncang, semua reservasi terkensel semua, semua kedatangan tertunda, effeknya masih terjadi tiga bulan kemudian, bahkan memerlukan bertahun-tahun untuk memulihkan image lagi sehingga orang akan merasa aman untuk datang lagi ke Yogyakarta, itulah masa yang teramat sulit bagi kehidupan tour guide

Betapa rapuhnya profesi tour guide hanya karena kaki lecet dia harus kehilangan 1 hari kerja, apalagi ada isu yang lebih mendunia misalnya  penyakit menular .. order langsung lepas, tourist kabur dan tak mau datang lagi,  ada isu teroris .. semua memindah liburan dari Indonesia ke negara lain yang lebih aman.., bencana alam apalagi .. turis tak lagi mau datang takut terken bancana..  Oleh karena bagaimananapun juga profesi tour guide adalah berhubungan langsung dengan turis , maka kehidupan tour dapat digambarkan dengan proverb “tourist datang,  ada uang,  itupun kalau ordernya tidak nyasar ke orang lain, tak ada tourist tak ada uang !!”

Inflasi sangat mempengaruhi nilai pendapatan tour guide, semakin hari  nilai rupiah yang didapat tidak digunakan untuk memenuhi kehidupan keluarga,  semakin hari semakin sulit  dengan pendapatan sebagai tour guide.  Ingin meningkatkan pendapatan tidak mungkin , manusia ada titik lelah sehingga order yang didapat maksimal  4 order perbulan, itupun kalau tanggalnya tidak bertabrakan satu  order dengan order yang lain, sebagai contoh satu order terdiri dari itinerary seperti dibawah ini:

Day  1 check in.
Day  2 Borobudur dan City Tour.
Day  3 Prambanan tour .
Day  4 transfer to Airport.

Order yang  seperti di atas sangatlah  tidak menguntungkan  walau durasi kerja adalah 4 hari akan tetapi  fee dihitung berdasarkan jam kerja sehingga  4 hari kerja hanya mendapatkan 18 jam kerja.  Satu kali order mendapatkan fee dari hasil kerja adalah  sebesar RP 150.000  dan sebulan  hanya dapat mengerjakan x 4 order (Rp 150.000x 4 = Rp 600.00). Rp 600.000 nilai yang teramat tipis untuk memenuhi kebutuhan pokok sebulan.  Pendapatan yang tidak dapat diprediksi adalah dari hasil  komisi, tips tamu yang apabila dikumpulkan sebulan hanya berkisar RP 400.000. Jadi kalau ditotal semua satu bulan mendapatkan RP 1.000.000, sehingga untuk mendapatkan tambahan biasanya menjual tour optional, menjual  Ramayana Ballet, dan hasilnya masuk kantong sendiri setelah dibagi dengan driver dll.

Dengan nilai sebanyak itu ketika harus di bagi-bagi sesuai kebutuhan ternyata hanya dapat memuhi sebagaian kebutuhan pokok minimal, untuk keperluan yang lain seperti jaminan social, kesehatan,  pengadaan kendaraan, tempat tinggal tidak pernah terpikirkan bagaimana caranya, karena memang tidak ada uang pendapatan yang tersisa untuk itu.

Seperti pada umumnya  tour guide akan bermimpi mendapatkan kehidupan yang sejahtera dan  lebih baik, mampu membeli pakaian baru buat anak dan istri, mempunyai rumah yang bagus, kendaraan yang nyaman, akan tetapi masa menjadi tour guide adalah masa dimana kita memenjarakan diri atau memaksakan diri dengan keadaan,  keadaan dimana  tour guide mau tidak mau, untuk sehari berkerja selama 10 jam hanya mendapatkan maximal RP 75.000. Ingin meminta tambah fee, tidak memungkinkan karena pasar mengatakan bahwa guide fee itu sehari hanya sampai Rp 75.000, apabila tour guide  meminta kenaikan tour guide  akan kalah oleh trik  teman seprofesi yang mengatakan “Mas …. (isilah titik ini) order kanggo aku wae, aku dibayar berapun mau, asal order itu buat aku  !”.

Masa pakai tour guide digambarkan sebagai diagram hiperbola, yang manjelaskan bahwa fase  masa pakai seorang  tour guide, seperti berikut:

Fase 1  seorang tour guide pemula setelah keluar dari  masa penggemblengan di kawah Candradimuka akan mengalami masa dimana dia harus mendapatkan existensi dengan cara mempromosikan dirinya ke mana saja dari pintu ke pintu agar dirinya dikenal sebagai pendatang baru yang realible.

Fase 2  adalah fase di mana tour guide mampu mangatasi fase pertama dan pada fase ini tour guide dapat  bekerja full power, laris manis dipakai dimana-mana  banjir duit tips, komisi dan optional.

Fase 3  adalah fase dimana tour guide menjadi low power karena  semakin aus, semakin lelah jiwa dan raga, jenuh dengan kegitan monotone dan  semakin dekat dengan banyak penyakit dan semakin tidak mendapatkan order, karena ditinggalkan oleh travel biro.

Melihat fase diatas sangatlah penting bagi tour guide melihat berbagai kemungkinan yang terjadi dengan diri tour guide sendiri dimasa mendatang, masa tua adalah masa masa dimana tour guide sudah tidak kuat lagi memanjat candi Borobudur, tidak kuat lagi naik ke gunung  Bromo, melihat teman seprofesi yang terkena strok ,yang  mati terkena serangan pada saat berkerja, masa dimana anak-anak tour guide mulai memerlukan biaya yang sangat tinggi untuk melanjutkan sekolah.  Berprofesi sebagi tour guide, bukan  seperti buah kelapa semakin tua semakin banyak santannya, guide semakin tua, bukan semakin baik, akan tetapi semakin tua tour guide semakin tidak ada yang mau memberi order, dengan alasan semakin tua tour guide semakin beresiko mati saat sedang guiding, atau semakin tua semakin pikun , sedangkan  sang pemberi order tidak mau mananggung resiko itu kematian tour guide, atau dikomplain tamu karena mempekerjakan seorang yang sudah udzur.

Keadaan semakin lama semakin tidak menguntungan, oleh  karena itu  tour guide harus memikirkan untuk segera menggantungkan seragam batik sebagai  tour guide, dan harus dipertimbangkan dan dikaji akibat buruk dan akibat baiknya terlebih dahulu, sehingga tidak manyesal dikemudian hari dengan keputusannya untuk menggantungkan seragam batiknya,  dan setelah itu  tour guide diharapkan segeralah berpamitan dari dunia perguide-an dan pensiun menjadi tour, adalah sebuah solusi yang terbaik… selagi ada waktu untuk bermanuver mengatasi waktu tua seorang tour guide.

Loh kok pensiun bukannya nanti tidak ada pendapatan ?? Iya betul tidak ada pendapatan dari bekerja memandu, akan tetapi  sangat disaran untuk tour guide yang sudah tidak enjoy dengan profesi, atau lelah psikis dan fisik untuk segera mengakhiri profesinya sebagai tour guide,  karena dengan mamaksakan diri untuk bekerja dengan semangat yang tidak maksimal akan mengakibatkan hasil yang tidak maksimal sama sekali, dan dengan hasil yang tidak maksimal akan mengakibatkan  tour guide menjadi bahan pergunjingan. Oleh sebab itu untuk mengantisipasi masa tua yang  tidak sejahtera,  tour guide harus jauh-jauh hari memikirkan usaha lain di luar dunia perguidan.

Dengan  pensiun  sebagai tour guide akan mandapatkan waktu  akan terfokus untuk menciptakan aktivitas yang akan lebih mandapatkan banyak uang dengan tanpa berpanas-panasan diterik matahari, tanpa mengeluarkan air liur untuk berbicara didepan bus.., ngajak tamu berkunjung ke segitga emas  atau ke KKK, tanpa stress dengan pedagang asongan, tanpa makian karena tidak mendapatkan gratuity, tanpa kekecewaan dengan order yang terkensel, dan yang penting tanpa dering telephon… ah tidur nyenyak , dan bulan Agustus dapat berlibur bersama anak-anak………

Baca artikel yang berhubungan http://hpijogja.wordpress.com/2011/12/15/kelelahan-psikis-seorang-tour-guide/

Orang Jawa memaknai dewa penguasa waktu, dengan sebutan BETORO KOLO. Kala berarti waktu, salah satu penjelmaan Dewa Perusak Alam, bernama Siva. Siwa, dalam kaitanya sebagai perusak (destroyer), bernama MAHADEWA, bukan kaitanya sbg Pencerah (Mahaguru) merusak, tidak selalu berarti negatif di saat terjadi gempa bumi, banjir, atau dalam skala lebih kecil, MACET di Sudirman, barangkali, bisa di kategorikan dalam kasus ini, terjadi hambatan aktivitas berkendara (yang berarti kita sedang dipermainkan oleh sang maha kala).

Kita tidak pernah menyadari, bahwa kamera kita, yang tergeletak di meja, selama 5 tahun, tanpa ada seorangpun yang menyentuh, kelak setelah 5 tahun, bisa dipastikan akan RUSAK. Tidak ada seorangpun yang memakai, dan menyebabkannya menjadi rusak. siapa yang merusak sebetulnya??? jawabannya adalah; WAKTU Ya, waktu, bersifat merusak, itulah mengapa orang Jawa mengenal dewa penguasa waktu, yang tiada lain adalah Dewa Kala Makara. Tiada seorangpun yang sanggup mengalahkan Kala makara, dilambangkan dengan figur yang galak, bertaring panjang, bermata besar, dan siap menerkam mangsa, itulah KALA, yang tanpa jeda sedetikpun, akan selalu memakan apa saja yang ditemuinya.

Perlombaan mengalahkan sang waktu, RACING AGAINST THE TIME, akan berakhir dengan kekalahan, siapapun yang melawannya. Kala makara akan dipastikan menjadi pemenangnya. Kala tidak akan berhenti barang sejenakpun, Kala makara akan selalu berjalan, detik berganti jam, dan kemudian berganti hari, bulan dan tahun. Sebentar lagi, kita semua akan dikalahkan oleh parameter baru, pergantian tahun !! Kita akan semakin tua, kita akan semakin renta, pertahanan dan stamina kitapun akan semakin rapuh, metabolisme tubuh kita juga akan berkurang akurasinya, tekanan darah berubah, semakin tinggi, atau semakin rendah, begitu juga dengan keseimbangan kadar gula dalam ludira, dll. penyebab utamanya adalah: WAKTU !!!!!! marilah, kita manfaatkan, dan kita syukuri nikmat waktu yang masih tersisa!!

Selamat Tahun Baru 2012 salam dari Jogja

SALAM PRAMUWISATA selamat pagi, rekan rekan semua
Penulis ingin mengevaluasi perjalanan dunia tour guides, khususnya di Jogjakarta dan pulau Jawa pada umumnya, hari ke hari , dan tahun demi tahun yang berlalu, setidaknya dalam 20 (dua puluh tahun) terakhir ini, di akhir tahun 80an, awal sejarah berdirinya HPI, adalah tahun keemasan kawan kawan seprofesi, di awal tahun 90 an, masih di era ORBA, dengan stabilitas yang dipaksakan, membawa dampak sangat positif di dunia pariwisata. saat itu, peruntukan ijin memandu (baca Lisensi) juga murni pengakuan kualifikasi kualitas, sehingga pemberian lisensi berjenjang dengan kontrol dari Dirjen pariwisata, membuat koordinasi dan pembinaan yang tidak pernah tumpang tindih. Intinya, segala aspek, sangat kondusif, membuat keberadaan Tour Guide, sangat diperhitungkan, stabilitas keamanan nasional mantap, otomatis (walau dengan promosi yang tersendat), wisatawan mengalir deras, lembaga pendidikan yang fasih memproduksi SDM berbahasa asing, relatif juga belum menjamur, sehingga kebutuhan akan Tour Guide, selalu saja kurang dan kurang. Jaman berubah, keberadaan Tour Guide, dan asosiasinya, mulai mendapat gangguan dan ancaman, bukan ancaman terhadap eksistensi organisasi ini, tetapi yang penulis maksud adalah ancaman terhadap taraf kesejahteraan anggotanya sejak dulu, anggota hampir selalu, berjuang sendirian, karena asosiasi sebagai fasilitator justru malah digerogoti oleh anggotanya sendiri. kebijakan asosiasi berupa standarisasi FEE , tentunya akan berujung kepada kesejahteraan anggota, tetapi saat asosiasi mematok nominal tertentu, justru anggotanya sendiri yang ribut !! Lebih parah lagi, bahkan di akhir tahun 2011, dan sangat mungkin akan di aplikasikan pada tahun 2012 mendatang, 2 anggota asosiasi, dengan inisial Y dan B sudah merelesae statement resmi di biro yang kemungkinan akan menggunakan jasanya , untuk rela bekerja, terus menerus TANPA FEE sepeserpun, dengan satu syarat bahwa yang bersangkutan digelontor grup seri yang sambung menyambung sepanjang tahun. 2 anggota tadi, belum jelas apakah masih valid keanggotaannya atau sudah kadaluwarsa, sebenarnya sudah terdepak dari percaturan biro raksasa yang mempekerjakannya, mengapa itu terjadi ? pertama karena faktor umur, mereka sudah terlalu uzur di usis senjanya. yang berikutnya juga karena berbagai tindakan indisipliner dan short cut, seperti membuat laporan akhir tour (statement) sendiri, yang seharusnya di tada tangani oleh pihak tamu, statement tadi kemudian dilaporkan dengan evaluasi super excellent, seolah olah memang mereka Tour guide paling jempol !! Bagaimana mungkin Tour Guide bekerja tanpa harus dibayar ! Substansinya, adalah bahwa Tour Guide sebagai profesi hidup dari FEE ( lauak atau tidak ), kalau ada yang berani bekerja ( dengan medan overland berat ) tanpa dibayar, tentu karena ada imbalan lain yang lebih menggiurkan, dan hal hal seperti inilah, yang harus kita sadari justru menunjukkan keserakahan, dan ke tidakprofesionalitasan Tour Guide yang bersnagkutan Anggota semacam inilah, yang merusak eksistensi Tour Guide, tentunya pihak Biro juga sudah mempekerjakan Tour Guide lain sebelumnya, dengan agreement natural, dan mungkin konvensional, akhirnya mereka yang konvensional (walaupun lebih kompeten), justru malah tersingkir, oleh mereka yang tamak.

Adalah menjadi hak setiap orang untuk bekerja se maksimal mungkin. dan sampai saat ini, belum ada batasan limit umur seseorang sampai umur berapa bisa dipekerjakan sebagai seorang Tour Guide. Tahun 2011 ini, Penulis masih menjumpai sosok energik, angkatan 45 yang masih tersisa, beliau adalah ibu I B R A H I M, salah satu Guide belanda terbaik yang dimiliki HPI Terbaik bukan versi ASITA, atau versi art shop, tetapi versi Tour Operator di Eropa, sebutlah : Holland International, Unitravel, Van Ginkel, ARke reisen, dll. beberapa nama Tour operatornya saja sudah almarhum, tetapi Guide terbaik mereka masih survive !! Luar Biasa !! saat ini, ibu Ibrahim berusia, sekitar 84 tahuan-an. Dan amsih sangat bugar !!!! Mungkin beliau adalah Guide yang tertua di negara kita tercinta, Republik Indonesia ! perlu dicatat, bu Ibrahim melakukannya bukan semata mata untuk mencari uang. ada 2 hal yang membuat beliau kembali turun ke lapangan: 1). Pihak biro yang sangat kekurangan SDM Guide Belanda (di peak season, Juli-Aug) 2). Bu Ibrahim memiliki waktu, dan ingin menikmati masa tuanya untuk jalan jalan bersama Tamu Belanda khususnya, mengisi waktu luang beliau Yang menjadi masalah adalah, saat kekurangan (faktor umur atau skill lainnya), ditutup dengan kong kalingkonk MURTAD tidak usah dibayar, begitu kurang lebihnya, dengan maksud menyingkirkan rival sesama tour guide itulah yang penulis perlu garis bawahi, bahwa saat ini, Tour guide mendapatkan ancaman, salah satunya justru dari sesama temannya sendiri. Lihatlah betapa setia dan ikhlas kawan kawan menengok kawan kita Edi Amplop, yang saat ini masih tergolek sakit, sakit yang menguras energi dan beaya tentunya. satu per satu, kawan kawan anggota HPI berkunjung ke Happy land, menunjukkan simpati dan perhatiannya untuk kesembuhan kawan kita Sementara di pihak lain, orang orang serakah yang Penulis sebut diatas, tentu akan sangat merasa senang apabila memiliki kawan yang sakit. Sedikit yang penulis ingin share dalam forum ini adalah, ketika Tour Guide hanya merupakan satu satunya profesi tempat mana kita menyandarkan periuk nasi kita, tentu akan sangat rentan kita mendapat tekanan eksploitasi, dari bermacam sumber. eksploitasi berupa FEE Murah/bahkan tanpa FEE, medan tempur tour yang semakin berat, obyek kebijakan penguasa yang justru tidak memihak Tour Guide, fitnah Jurnalis arogan yang tidak proporsional mewartakan kabar aktual, USER (biro travel) yang tidak koperatif, dll

Kita perhatikan foto Tour Guide era tahun 90-an diatas (foto diambil saat berlangsungnya Tour Leader Course, pada bulan januari 1991 di Wisma joglo), mas DIDIK masih sangat ganteng, lebih ganteng dari Liem Swie King , pak CANDRA MULYADI ( guide mandarin – almarhum), masih sangat gagah, ada juga mas Joko Purwanggono yang mesam mesem, kemudian mas PUNTO ( yang belum mengenal check up rutin, dan masih merokok ala lokomotif ), mas SEDIAJI juga masih sangat walafiat waktu itu, ada Guide belanda sangat belia waktu itu, baru berusia 21 tahun, Wawan namanya ( foto kedua dari kiri atas ), MORIS (moris, juga masih sangat menikmati rokoknya), TONI juga masih sangat lebat rambut kribonya, dll

Ya, waktu bergulir, tanpa bisa berhenti sejenakpun, dan perlahan stamina kita menurun, daya tahan tubuh pun berkurang, saat terhempas badai gunung Bromo, dengan sendirinya kita akan masuk angin, atau bahkan yang lebih parah dari itu. sementara output finansial yang kita dapat dari pengantaran perjalanan overland, kadang bahkan hanya cukup untuk beli beras, tidak seperti masa masa dimana kawan kawan masih sangat gagah dulu, dimana income mengantar tamu transit cukup untuk menebus sebuah motor baru, lain dulu lain sekarang. Memang tidak semua kawan kawan kita bernasib seperti cerita diatas, ada yang masih sangat eksis dengan FEE lebih dari layak: US $ 100,- /day Ada juga yang sukses mengelola usaha transport seperti kawan kita YUWONO, atau mengelola usaha kost kost an seperti mas YUNI (Jerman), atau mengoperasikan restoran mandiri , seperti mas SURYADI (jerman), dll Tetapi, masih lebih banyak yang menderita dari pada yang sejahtera

Tidak banyak yang bisa kita lakukan, selain, menurut hemat Penulis, merapatkan barisan, sehingga posisi tawar seorang Tour Guide, yang diwakili asosiasi, akan semakin diperhitungkan, dan tidak ada salahnya, walaupun sangat terlambat, mencoba pengembangan network, untuk mengarahkan setiap tour guide sebagai salesman, setidaknya untuk dirinya sendiri

Kita ucapkan selamat tinggal tahun 2011, dan mari kita sambut cerahnya asa kita di tahun mendatang 2012 Salam

Profesi sebagi tour guide adalah profesi didunia pariwisata yang langsung bersinggungan dengan konsument dan profesi yang menuntut pelakunya untuk bekerja secara perfect, on time, selalu sehat jasmani, mempunyai jiwa entertain, punya banyak akal  dan selalu pasang muka ceria bahagia walau kadang bertolak belakang dengan keadaaan yang sebenarnya, hal inilah yang menyebabkan tour guide mengalami kelelahanfisik atau mental. Apabila tour guide mengalami kelelahan mental dapat dipulihkan dengan istirahat yang cukup, makan –makanan yang bergizi , akan tetapi apabila tour guide mengalami kelelahan psikis makan pemulihananya tidaklah mudah karena berhubungan dengan psikis, sesuatu yang ada yang tidak nyata tidak dapat diliha dan tidak dapat diraba. Dalam tulisan ini penulis hanya akan membahas masalah kelelahan  psikis orang yang bekerja sebagai tour guide.  Kelalhan psikis tour guide yang terus menerus dapat menyebabkan perubahan tingkah laku: melakukan hal-diluar kendali, ataupun terkena penyakit kronis yang mematikan seperti serangan jantung, diabetes, kolesteron, hal ini sangat mengancam kelanjutan seseorang untuk menjadi tour guide.

Kelalahan psikis tour guide  secara garis besar hal yang menyebabkan kelelahan psikis  tour guide terbagi menjadi dua

  1. Factor yang berasal dari luar diri tour guide. Kemampuan berbicara dengan menggunakan bahasa asing didepan tourist sangatlah dapat dilakukan oleh setiap orang akan tetapi untuk menjadi tourguide yang baik sebenarnya tidak semua arang dapat melakukananya  disamping dituntut kemempuan bahasa yang berkembang dituntut juga mempunyai jiwa entertain, tindakan yang menghibur   sehingga konsument akan merasa puas dengan pelayanan. Pekerjaan regular yang monoton dan  tututan untuk selalu perfect inilah, yang sering membuat kelelahan fisik maupun mental tour guide.  Bagi orang yang tidak punya jiwa humorist untuk menjadi perfect adalah usaha yang sangat melelahkan.
  2. Facktor dari dalam diri tour guide sendiri. Tututan pemenuhan kebutuhan keluarga  sangat berkembang sangat cepat sedangkan pendapatan tour guide sepertinya hanya jalan ditempat, pendapatan  guide bukanlah seperti seorang bisnisman dimana pendapatan dapat  terjadi dalam jumlah yang sangat banyak dalam jumlah yang sesingkat-singkatnya, tetapi system pembayaran tour guide berdasarkan durasi berapa jam pekerjaan dilakukan jauh dari tutuhan kehidupan keluarga, sehingga tour guide akan selalu berusaha mendapatkan pendapatan tambahan dari tamu, baik berupa tips atau lainnya. Dan apabila itu tidak dapat terjadi maka itu akan mengakibatkan  kelelahan psikis tour guide.

Banyak sekali ciri-ciri kelelahan psikis tour guide namun berdasarkan catatan penulis  apabila tour guide mengalami kelelahan psikis  biasanya terdapat ciri-ciri seperti berikut:

  1. Tour guide memilih tamu memilih asal tamu, memilih total tamu , memilih  travel biro, padahal profesi tour guide adalah profesi yang harus ready setiap saat untuk memandu.
  2. Tour guide memaki tamu, mengometari tamu negative apabila menjumpai tamu yang  tidak seperrti yang diharapkan: sopan santun baik hati, suka mamberi tip, suka belanja, suka memneri tip.
  3. Tour guide mulai merasa kecewa dengan hasil yang didapat baik berupa fees, tip dan lain sebagainya.
  4. Tour guide mulai terteror dengan panggilan telepon , setiap dengar panggilan telephone tour guide akan mengira panggilan dari travel agent yang tidak disukainya atau merasa dia ada tanggungan penjemputan yang terlupakan .
  5. Tour guide merasa berat hati ketika akan berangkat kerja  terutama untuk pemanduan overland merasa berat meninggalkan anak atau keluarga dirumah.
  6. Membeli barang-barang yang tidak dibutuhkan
  7.  Tour guide mulai merasakan bahwa profesianya tidak lagi berkembang, mengahasilkan banyak uang.

Level kelelahan psikis dapat terjadi mulai dari paling rendah adalah tour guide mengalami sakit kepada, diare, maag lebih tinggi lagi adalah perasaan yang tidak nyaman dengan pekerjaan dan yang paling tinggi adalah tour guide berbuatan sesuatu di luar kontrol. Kelelahan psikis yang dialami  tour guide antara yang satu tour guide yang satu  dengan yang lainnya sangat variatif berbeda tergantung dengan: pengalaman hidup  individu, kesadaran individu dan lingkungan individu tour guide.

Cara yang umum dapat digunakan untuk pemulihan kelelahan psikis tour guide antara lain sebagai berikut:

  1. Banyak berkumpul dengan keluarga, hal ini penting untuk member dukungan semangat bahwa tour guide harus tetapa semangat untuk mencarii nafkah.
  2.  Banyak bergaul dengan teman seprofesi ataupun tidak  untuk  lebih mendapatkan ide –ide segar .
  3. Banyak berolah raga yang bersifat rekreakasi
  4. Melakukan kegiatan yang sesaua dengan hobi
  5. Berdoa untuk mendekatkan diri  dengan Tuhan  dan banyak-banyak merenung untuk menyedarkan diri tour guide bahwa rejeki dll datanganya dari Tuhan
  6. Banyak menuliskan ide-ide atau pengalaman bekerja sebagai tour guide  dalam betuk tulisan di Koran atau di blog
  7. Dan untuk yang terakhir tour guide harus pindah profesi.

Tulisn ini dimaksudkan untuk memberi insiprasi tour guide untuk membahas sisi lain bahwa perkerjaaan sebagai tour guide yang penuh dengan resiko,  yang ternyata tidak semudah seperti persepsi   oleh kebanyakan orang diluar tour guide, bahwa tour guide bergelimang harta, dibayar dengan uang asing.  Mudah-mudah  tulisan ini bermanfaat.

Yogyakarta, Desember 2011

Penulis

Halaman Berikutnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.